Powered By Blogger

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #17)


Karya : Ipey

     Bagi Diana dan teman-temannya, hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan, karena sejak tadi malam hingga matahari berada tepat diatas sana mereka masih harus bergelut dengan aktifitasnya menyelesaikan persiapan pertunjukan untuk esok hari, yang berarti hanya menyisakan waktu beberapa jam kedepan. Sementara panitia penyelenggara saat itu baru sampai pada penataan panggung utama serta pemasangan tenda bagi para tamu undangan. Peralatan musik, lighting serta perlengakapan audio pendukung yang dijanjikan datang pagi hari, baru tiba sekitar pukul 12.45 wib. Keterlambatan mereka cukup beralasan, karena memang jalanan sepanjang menuju tempat kegiatan mengalami kemacetan. Masih bersyukur mereka dapat beristirahat sejenak, sementara para crew sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah memastikan semua peralatan tertata sesuai dengan keinginan panitia, sebagian dari mereka kembali pergi meninggalkan lokasi. Hanya operator dan beberapa crew saja yang tinggal untuk malakukan check sound, agar pada saatnya semua bisa berjalan dengan lancar sesuai keinginan yang diharapkan.
Diana yang bertugas sebagai koordinator penyelenggara acara kini dapat sedikit bernafas lega, karena dengan demikian ia hanya tinggal menyisakan 30 persen tugasnya untuk persiapan pelaksanaan kegiatan. Beberapa pengisi acara sudah memastikan diri akan hadir pada waktunya. Pimpinan kelompok teater Temperatur yang akan tampil di puncak acara pun telah menyatakan kesiapannya, dan malam nanti akan melakukan latihan pementasan dilokasi kegiatan. Sementara perwakilan dari pihak organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) baru akan bertemu dengannya sore hari nanti untuk mempersiapkan tempat serta segala keperluan kegiatan Donor Darah yang akan dilaksanakan besok pagi sebelum acara pentas musik dimulai. Baligo, spanduk, serta atribut lainnya telah terpasang ditempat-tempat tertentu, sesuai perjanjian kerjasama acara yang telah disepakati kedua belah pihak antara panitia penyelenggara dengan berbagai pihak sponsor, dengan mengikuti ketentuan aturan mengenai pelaksanaan kegiatan sesuai ketetapan hukum yang berlaku.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #16)


Karya : Ipey

     Hujan deras yang datang menyapa senja kala itu mengharuskannya mencari tempat berteduh. Para pengendara roda dua menepikan kendaraan untuk memakaikan jas hujan sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Rhaka menyelinap diantara orang-orang yang berjejer  sepanjang gerbang toko, meminta berbagi tempat untuk berteduh. Tak lama kemudian air hujan menggenangi jalan raya, hingga ketika kendaraan melintas cepat memberikan percikan air pada mereka yang tengah berteduh disana. Teriakan protes serta caci maki memberi suasana gaduh sesaat, kemudian mereka terdiam kembali. Pepohonan disepanjang pinggiran jalan meliuk-liuk diterpa angin kencang disertai petir bersahutan. Curah hujan pun semakin deras, menghanyutkan segala benda hingga menjauhkannya dari tempat semula. Rhaka memeluk tubuhnya sendiri untuk mengusir rasa dingin dari hembusan angin yang tak henti bertiup. Kendaraan roda dua hampir tak terlihat melintas dijalan raya, begitupun para pengais rezeki dilampu merah kini tak nampak lagi dari pandangan mata. Mungkin mereka semua menepi mencari tempat berlindung dari derasnya curah hujan dan angin kencang serta petir yang menyambar bersahutan seakan tiada henti. Lampu-lampu penerangan jalan ditahan situasi dan kondisi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Para pemilik toko pun terpaksa menyalakan lilin atau lampu cadangan yang mereka miliki guna menerangi tempat usahanya. Tak sedikit dari mereka memutuskan untuk menutup toko lebih awal dari biasanya, dengan alasan demi keamanan. Tak terdengar gema adzan maghrib, meski waktu untuk itu sudah tiba. Dan seiring waktu berjalan, perlahan hujan pun mulai reda. Namun petir masih menyimpan rindu pada suasana hingga ia enggan untuk segera pergi menelusuri tempat lainnya. Setelah memaksakan berjalan menembus rintik hujan, Rhaka tergesa menaiki bus Damri untuk kemudian mengambil jok panjang dibelakang.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #15)



Karya : Ipey

     Hampir semalaman ia tak henti merenungkan apa yang telah dilakukannya beberapa waktu kebelakang. Dibuka kembali lembar demi lembar buku catatan yang tersimpan rapi dibawah tumpukan pakaian, tanpa melewatkan satu katapun disetiap halamannya. Dua gelas seduhan kopi sudah ia habiskan untuk menghindari rasa kantuk yang bisa saja tiba-tiba datang. Setelah menyimpan buku catatan ketempat semula, Rhaka merebahkan diri ditempat tidur sambil memainkan senar-senar gitar. Dipetiknya perlahan agar tak mengganggu waktu istirahat penghuni kost lainnya. Nyanyian binatang malam tak bosan-bosan menemani kesendirian melewati detik-detik berjalan tanpa bisa dihentikan. Getar dawai gitar ia hentikan ketika terdengar langkah berjalan. Tak lama berselang suara nyaring bergema ditelinga ketika seseorang memukul benda keras diluar sana, memberitahukan bahwa mereka sedang menjalankan tugas malam di lingkungannya. Rhaka memadamkan cahaya terang yang menempel di langit-langit kamar, lalu menekan saklar guna memberikan suasana redup disekitar ia merebahkan diri. Sebelum terlelap ia berharap hari esok memberinya kehidupan lebih baik dari hari ini.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #20)

             Karya : Ipey       Bayang-bayang senyuman diwajah merah merona berbalut keteduhan dan kelembutan tak jua sirna dar...