Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #20)

            

Karya : Ipey

      Bayang-bayang senyuman diwajah merah merona berbalut keteduhan dan kelembutan tak jua sirna dari benaknya. Hingga larut malam menyapa, berbalut udara dingin mengelilingi kesendirian, ia masih duduk termenung memegang pena ditangan berteman cahaya lampu redup diatas meja. Sesekali pikirannya menerawang jauh ke masa lalu, memutar arah waktu, mencari sesuatu yang mungkin dapat membuka celah sebagai bekal baginya untuk melangkah menelusuri masa yang akan dilewati. Banyak kata ingin ia tuangkan dilembaran kertas putih yang setia menanti goresan hati, meski tak mudah merangkai kalimat hingga menjadikannya berarti. Mencoba mengambil hikmah dari setiap langkah, berharap kepasrahan menjadi jembatan perekat hati dengan ilahi. Menyikapi air mata dalam dekapan luka tanpa angkara murka, serta mensyukuri senyum bahagia tanpa berpaling dari-Nya, meski terkadang terbersit dendam disela-sela penderitaan. Dan seiring detik-detik jarum jam berdetak, batinnya pun perlahan mulai terusik untuk menuntun jemari tangan menggoreskan tinta.
Kalimat pertama yang ia tuliskan dengan mata berkaca-kaca membawa alam pikirannya ke dalam pencarian menuju singgasana-Nya.
"Aku ingin bertemu untuk mengadu pada-Mu, wahai zat yang maha bijaksana".
Hatinya pun bergetar ketika ia membaca ulang apa yang telah ia tuliskan. Bergetar melawan rasa takut bercampur rasa sedih yang membaur menjadi satu dalam hati serta pikirannya. Sejenak ia terdiam, lalu menutup buku catatan, lantas mematikan lampu di atas meja, dan kemudian merebahkan diri dipembaringan.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #19)


Karya : Ipey

      Malam ini bulan tak menampakkan senyum manisnya seperti biasa, begitupun bintang-bintang. Ia tak memperlihatkan kerlipnya yang bersahaja. Deras curah hujan memaksa mereka bersembunyi dibalik awan hitam, yang geram menyaksikan rekayasa terhadap kebenaran. Kebenaran semu atas hasil upaya pembenaran terhadap kesalahan yang nyata-nyata tampak didepan mata. Atau mungkin awan hitam sengaja menghalangi pandangan bintang-bintang diangkasa serta bulan yang biasanya merona merah menyaksikan panggung kehidupan dihamparan alam terbuka. Angin pun bertiup kencang seakan berteriak pada para penegak keadilan, memohon agar kebenaran tak diperjual belikan seperti barang dagangan. Dan kini binatang malam semakin jelas mengumandangkan lagu kematian, mengiringi jerit kesakitan para penuntut balas atas kesewenang-wenangan yang bertebaran hingga ke penjuru samudera. Para jelata merangkak dengan tangisan darah dan luka disekujur tubuhnya, hingga nurani pun terkoyak batinnya, tercabik-cabik tajamnya mahkota berhias derita disekelilingnya. Tetesan air dari ujung genting membawa khabar bahwa samudera tengah merasa gundah. Dan kegundahannya menebarkan gelombang ke segala arah, menyapu segala benda yang dilintasinya hingga terdampar dipesisir pantai. Apakah ini pertanda semesta akan murka?. Hanya nantilah yang akan membuktikan kebenaran sesungguhnya.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #18)


Karya : Ipey

     Butiran bening yang menggelayut diujung dedaunan satu persatu berjatuhan ke tanah dan menebar bau basah. Kabut tipis perlahan menepi ditiup hembusan angin seiring senyum mentari menyapa pagi. Tarikan nafas panjang serta gerak gemulai berirama menikmati udara lepas tanpa polusi dan radiasi limbah industri. Gemericik suara air mengalir memberi suasana sejuk dan damai tanpa rasa dengki menyelimuti. Awan putih pun melengkungkan senyumnya dengan tulus dan ikhlas tanpa berharap balas. Hamparan rumput hijau dan pepohonan sepanjang bukit menuntun hati mengucap syukur akan karunia sang pencipta. Bersyukur karena diantara gedung-gedung tinggi yang bertebaran ditiap penjuru kota masih terdapat tempat untuk menikmati suasana alam berbalut sentuhan alami. Santun kata dan sikap ramah serta tegur sapa menghiasi tradisi yang semestinya dijunjung tinggi, sehingga sikap hidup bertoleransi menjadi pilar suci dalam kehidupan ini. Tak ada kasta yang membentengi, tak memepersoalkan status sosial dalam berbagi suka dan penderitaan. Berharap disetiap keyakinannya tertanam bahwa dimata Tuhan semuanya sama, yakni sebagai makhluk ciptaan-Nya.

       Sujud syukur berucap do'a ia sampaikan atas segala karunia dan kasih sayang-Nya. Hatinya memohon agar senantiasa dijauhkan dari prasangka buruk terhadap sang maha segalanya, dijauhkan dari sifat iri dengki dan sifat-sifat lainnya yang akan membuat Tuhan murka. Menyadari sepenuhnya atas segala kekhilafan dan kelalaian yang telah diperbuatnya, Rhaka pun menyerahkan segalanya pada penguasa alam semesta teriring pinta, semoga Tuhan tetap mencurahkan kasih sayang padanya. Berbagai cela dan hina ia jadikan sebagai pengingat untuk senantiasa bersikap sabar dalam menghadapi segala persoalan. Menghapus luka untuk setiap perkataan menyakitkan dan setiap sikap yang merendahkan. Berusaha tetap tersenyum meski perih menghimpit setiap langkahnya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan demi menepis rasa dendam. Dan pagi ini ia hanya ingin melewati hari dengan tenang seperti layaknya air mengalir dari hulu ke hilir, sampai bertemu dimuara dan kemudian menyatu disamudera lepas. Berusaha melupakan sikap orang tua Diana terhadapnya ketika ia berkunjung ke rumahnya tempo hari. Akal sehat dan pikiran dewasa menuntunnya untuk memahami bahwa itu sebuah kewajaran yang timbul karena kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Meski demikian rasa hormatnya kepada orang tua Diana tak berkurang atau hilang. Begitu juga rasa sayangnya terhadap Diana, tak menyurut berkurang sedikitpun. Biar waktu menjawab semua yang akan terjadi nanti, pikir Rhaka berusaha bijak menyikapinya.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #17)


Karya : Ipey

     Bagi Diana dan teman-temannya, hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan, karena sejak tadi malam hingga matahari berada tepat diatas sana mereka masih harus bergelut dengan aktifitasnya menyelesaikan persiapan pertunjukan untuk esok hari, yang berarti hanya menyisakan waktu beberapa jam kedepan. Sementara panitia penyelenggara saat itu baru sampai pada penataan panggung utama serta pemasangan tenda bagi para tamu undangan. Peralatan musik, lighting serta perlengakapan audio pendukung yang dijanjikan datang pagi hari, baru tiba sekitar pukul 12.45 wib. Keterlambatan mereka cukup beralasan, karena memang jalanan sepanjang menuju tempat kegiatan mengalami kemacetan. Masih bersyukur mereka dapat beristirahat sejenak, sementara para crew sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah memastikan semua peralatan tertata sesuai dengan keinginan panitia, sebagian dari mereka kembali pergi meninggalkan lokasi. Hanya operator dan beberapa crew saja yang tinggal untuk malakukan check sound, agar pada saatnya semua bisa berjalan dengan lancar sesuai keinginan yang diharapkan.
Diana yang bertugas sebagai koordinator penyelenggara acara kini dapat sedikit bernafas lega, karena dengan demikian ia hanya tinggal menyisakan 30 persen tugasnya untuk persiapan pelaksanaan kegiatan. Beberapa pengisi acara sudah memastikan diri akan hadir pada waktunya. Pimpinan kelompok teater Temperatur yang akan tampil di puncak acara pun telah menyatakan kesiapannya, dan malam nanti akan melakukan latihan pementasan dilokasi kegiatan. Sementara perwakilan dari pihak organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) baru akan bertemu dengannya sore hari nanti untuk mempersiapkan tempat serta segala keperluan kegiatan Donor Darah yang akan dilaksanakan besok pagi sebelum acara pentas musik dimulai. Baligo, spanduk, serta atribut lainnya telah terpasang ditempat-tempat tertentu, sesuai perjanjian kerjasama acara yang telah disepakati kedua belah pihak antara panitia penyelenggara dengan berbagai pihak sponsor, dengan mengikuti ketentuan aturan mengenai pelaksanaan kegiatan sesuai ketetapan hukum yang berlaku.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #16)


Karya : Ipey

     Hujan deras yang datang menyapa senja kala itu mengharuskannya mencari tempat berteduh. Para pengendara roda dua menepikan kendaraan untuk memakaikan jas hujan sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Rhaka menyelinap diantara orang-orang yang berjejer  sepanjang gerbang toko, meminta berbagi tempat untuk berteduh. Tak lama kemudian air hujan menggenangi jalan raya, hingga ketika kendaraan melintas cepat memberikan percikan air pada mereka yang tengah berteduh disana. Teriakan protes serta caci maki memberi suasana gaduh sesaat, kemudian mereka terdiam kembali. Pepohonan disepanjang pinggiran jalan meliuk-liuk diterpa angin kencang disertai petir bersahutan. Curah hujan pun semakin deras, menghanyutkan segala benda hingga menjauhkannya dari tempat semula. Rhaka memeluk tubuhnya sendiri untuk mengusir rasa dingin dari hembusan angin yang tak henti bertiup. Kendaraan roda dua hampir tak terlihat melintas dijalan raya, begitupun para pengais rezeki dilampu merah kini tak nampak lagi dari pandangan mata. Mungkin mereka semua menepi mencari tempat berlindung dari derasnya curah hujan dan angin kencang serta petir yang menyambar bersahutan seakan tiada henti. Lampu-lampu penerangan jalan ditahan situasi dan kondisi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Para pemilik toko pun terpaksa menyalakan lilin atau lampu cadangan yang mereka miliki guna menerangi tempat usahanya. Tak sedikit dari mereka memutuskan untuk menutup toko lebih awal dari biasanya, dengan alasan demi keamanan. Tak terdengar gema adzan maghrib, meski waktu untuk itu sudah tiba. Dan seiring waktu berjalan, perlahan hujan pun mulai reda. Namun petir masih menyimpan rindu pada suasana hingga ia enggan untuk segera pergi menelusuri tempat lainnya. Setelah memaksakan berjalan menembus rintik hujan, Rhaka tergesa menaiki bus Damri untuk kemudian mengambil jok panjang dibelakang.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #15)



Karya : Ipey

     Hampir semalaman ia tak henti merenungkan apa yang telah dilakukannya beberapa waktu kebelakang. Dibuka kembali lembar demi lembar buku catatan yang tersimpan rapi dibawah tumpukan pakaian, tanpa melewatkan satu katapun disetiap halamannya. Dua gelas seduhan kopi sudah ia habiskan untuk menghindari rasa kantuk yang bisa saja tiba-tiba datang. Setelah menyimpan buku catatan ketempat semula, Rhaka merebahkan diri ditempat tidur sambil memainkan senar-senar gitar. Dipetiknya perlahan agar tak mengganggu waktu istirahat penghuni kost lainnya. Nyanyian binatang malam tak bosan-bosan menemani kesendirian melewati detik-detik berjalan tanpa bisa dihentikan. Getar dawai gitar ia hentikan ketika terdengar langkah berjalan. Tak lama berselang suara nyaring bergema ditelinga ketika seseorang memukul benda keras diluar sana, memberitahukan bahwa mereka sedang menjalankan tugas malam di lingkungannya. Rhaka memadamkan cahaya terang yang menempel di langit-langit kamar, lalu menekan saklar guna memberikan suasana redup disekitar ia merebahkan diri. Sebelum terlelap ia berharap hari esok memberinya kehidupan lebih baik dari hari ini.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #14)


Karya : Ipey

    Meski tak pandai merangkai kata-kata seindah syair para pujangga kenamaan dibelahan dunia, Rhaka berusaha menuangkan segala yang tersimpan di benak pikirannya. Kata demi kata mulai berderet perlahan menyusun rangkaian makna, tanpa berpikir apakah orang lain akan mengerti atau tidak tentang apa yang digoreskan, andai mereka tak sengaja membacanya. Ia hanya berusaha mencurahkan isi hati dan perasaannya untuk disimpan sendiri, dan kelak menjadi lembar kenangan bahwa ia pernah melewati masa-masa itu. Alasannya sederhana saja, agar ia senantiasa mengingat apa yang telah dialami, sehingga bisa memetik pelajaran dari setiap kesalahan, kekhilafan dan apapun itu demi kebaikannya semata. Kata-kata pujian, cibiran, caci maki dan sumpah serapah yang ia terima, menjadi irama bagi ujung pena melukiskan peristiwa. Berteman angin malam bertiup perlahan menyapa kesunyian, berkawan bintang-bintang dan rembulan bercahaya merona, ia mengulas langkah-lagkahnya menapaki bumi tanpa bicara. Dan di akhir kalimat penutup berhurup kapital dan tercetak tebal penanya, terangkaikan sederet kata dengan tanda kutip diawal dan akhirnya,
“dan Akupun sadar diri, karena aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa”.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #13)


Karya : Ipey

        Dengan suara nyaring dan lantang ia berkokok, mengucapkan selamat pagi pada jiwa-jiwa yang bersembunyi dibalik selimut mimpinya tadi malam. Burung-burung menanti sinar mentari datang menghangatkan tubuhnya, setelah sepanjang malam berdiam diri di sarang-sarang tanpa kata. Rembulan pun perlahan pergi menjauh melanjutkan petualangan ke belahan dunia lainnya, seperti yang telah digariskan alam semesta, dengan membawa berbagai kisah ke tujuan berikutnya tanpa banyak bicara. Trotoar jalan memasang kuda-kuda, bersiap diri diinjak-injak para pejalan kaki tanpa henti, sampai mereka lelah untuk melangkah. Beningnya embun perlahan berjatuhan dari ujung dedaunan, membasuh tanah kering di pelataran rumah.
Rhaka menyempatkan diri merapikan tempat tidur sebelum ia pergi. Setelah memastikan semuanya aman, ia melangkah berteman gitar kesayangan terbungkus sarungnya ditentengan tangan. Ia harus sampai di tujuan sebelum matahari beranjak semakin tinggi, seperti janjinya pada Diana yang kini menunggu kedatangan Rhaka, guna mengantarnya ke terminal untuk menuju kampung halaman.
      Bus terminal antar kota berjejer di jalurnya masing-masing, sesuai kota tujuan yang akan ditempuhnya. Rhaka mencarikan tempat duduk untuk Diana menikmati perjalanan hingga sampai di tempat tujuan. Tak lama kemudian bus pun melaju perlahan. Itu tanda perpisahan sementara bagi mereka, dan Rhaka harus rela membalas lambaian tangan Diana yang tampak tulus menyelipkan senyum di bibirnya, sebelum tikungan jalan menghapus pandangan mata mereka berdua.
Baru beberapa menit berselang Diana merasakan ada sesuatu yang hilang darinya. Tak ada bahu disampingnya, tempat dimana ia menyandarkan keluh kesah, mencurahkan isi hati dikala merasa gundah. Kuncup rindu pun perlahan mekar disanubari tanpa sanggup ia hindari, meski ini bukan kali pertama ia mengenal cinta. Mungkin begitulah adanya jika asmara telah merasuk ke dalam jiwa. Perlahan tapi pasti ia datang tanpa disadari, serta sulit untuk dihindari ketika ia meminta pergi meski dengan permisi.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #12)


Karya : Ipey

       Nada-nada mengalun perlahan diiringi petikan senar-senar gitar dikeheningan malam bertaburkan kerlip bintang dan senyum sang rembulan. Semilir angin berhembus membawa kabar suka dan duka para pewaris tahta negeri khatulistiwa di belahan dunia. Penunjuk waktu berkeliling tanpa henti mengitari haluannya. Tak bosan-bosan mengemudi para pengejar mimpi, menjadi saksi bisu perjalanan ke tujuannya masing-masing. Mereka yang resah menanti hari esok, setia menemani nyanyian malam dengan keresahannya. Sementara para pengabdi Tuhan terhanyut dan larut dalam permohonan, bersimbah air mata di sela-sela kekhusuannya. Dan sampai gerimis datang menyapa lamunan, Yori masih diam terpaku bersandar ke dinding kamar, menikmati asap rokok sambil sesekali meneguk seduhan kopi. Pintu kamar perlahan terbuka setelah Yori menyahuti suara panggilan dari luar. Rhaka mengaitkan jaket di balik pintu setelah menempatkan bungkus makanan di lantai, kemudian meminta Aray membuat seduhan kopi untuk mereka.
“Dia nggak ada di tempat Yor. Aku sudah coba cari berkeliling dan menanyakan pada penjaga keamanan kampus, tapi tak satupun yang tahu dimana ia berada. Mungkin dia pulang ke kostannya”.
Aray coba menyampaikan hasil pencariannya dengan ekspresi wajah menyiratkan kekecewaan. Rhaka mengambil gelas seduhan kopi yang baru saja dibuatkan Aray untuk mereka.
“Berikan dia waktu untuk menenangkan diri. Mungkin ia membutuhkan itu  saat ini. Jangan terlalu memaksakan, karena aku khawatir akan berdampak kurang baik bagi kita. Masih ada waktu untuk kita menyusun kembali rencana kedepan”.
Papar Rhaka beruasa menenangkan suasana.    
    
           Seminggu sudah sejak peristiwa hari itu, Rendy tak menampakkan dirinya di kampus. Apakah sebenarnya ia masih menyimpan kekecewaannya terhadap Rhaka, atau memang ada hal lain. Yori terus coba mencari tahu, alasan apakah sebenarnya yang membuat Rendy bersikap seperti itu. Hingga sampai malam ini ia masih menduga-duga tanpa tahu kepastiannya.
“Andai saja ia mau terbuka mengenai persoalan yang sedang dihadapinya, mungkin saat ini ia berada diantara kita”. Ucap Yori menyiratkan penyesalan.
Rhaka dan juga Aray hanya bisa diam mendengar penyesalan sahabatnya.  Selang beberapa saat kemudian mereka saling pandang satu sama lain, ketika mendengar suara dari balik pintu menyapa kesunyian.
“Itu dia datang”. Sahut Aray spontan mendengar suara panggilan dari luar yang tak asing ditelinganya. Aray membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.
“Aku pikir kalian ada dikampus, jadi sepulang menemui teman aku menuju kesana. Kebetulan aku bertemu Roni, dan ia memberitahuku jika kalian ada disini”. Jelas Rendy tanpa basa basi.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #11)


Karya : Ipey

Meskipun dia telah menyampaikan beberapa penjelasan serta alasan, namun Rendy masih belum bisa menerima juga. Kawan-kawan yang berusaha menenangkan, akhirnya memutuskan untuk diam dan sedikit menjauh. Sepertinya Rendy benar-benar marah kali ini. Yori, Aray dan Arok hanya bisa diam tertunduk sambil sesekali menghela nafas panjang, dan Rhaka masih mencoba berusaha tetap tenang menghadapinya. Namun melihat Rendy masih saja tak mengerti, akhirnya dinding kesabarannya pun terkoyak sudah.
"Sekarang tak penting bagiku, kau percaya atau tidak atas semua penjelasanku!. Aku hanya minta kalian mengerti situasiku saat ini. Hanya itu saja. Cobalah mengerti sikap egoisku saat ini, jika memang kalian menganggapnya itu sikap keegoisan. Coba tolong kau ingat baik-baik,       apa sebelumnya aku pernah seperti ini Ren?.  Tidak pernah!. Apa kalian pikir selama ini aku pernah mengecewakan atau mengkhianati kalian, mengkhianati perjuangan dan kebersamaan kita?!. Seingatku pun tidak. Rhaka benar-benar tak dapat lagi menahannya.
Sejenak ia menghela napas panjang, menengadahkan wajah, lalu membuang pandangannya sejauh mungkin.   

Dari Balik Kaca Jendela(Episode #10)


Karya : Ipey

        Awan putih berarak menyelimuti langit tinggi, dan kilaunya tampak indah di sinari matahari. Sesekali angin semilir bertiup menyapa  dedaunan, memberi sentuhan pada suasana hati.  Langkah-langkah terdengar silih berganti melewati jalan sempit di depan rumah pemilik kost yang di tempatinya hampir setahun ini. Hanya tinggal menunggu hitungan hari ia harus secepatnya memberikan kepastian pada pemilik rumah, akan tetap tinggal atau mencari tempat lain. Rhaka menghitung kembali pecahan uang logam dalam kaleng biskuit dengan teliti, lalu memindahkannya ke kantung plastik dengan memasukkan secarik kertas bertuliskan jumlah uang didalamnya. Ia berpikir sejenak selepas menghitung jumlah keseluruhan tabungannya.
“Tinggal beberapa rupiah lagi aku baru bisa membayar uang kost pada pemilik rumah ini, seandainya akan tetap disini”. Gumamnya dalam hati.
Ia berpikir, menimbang ulang untuk memberikan jawaban pasti pada pemilik rumah. Beberapa hari lalu ketika dalam perjalanan pulang ia melihat sebuah rumah kost-an tak begitu jauh dengan tempat kost-nya sekarang. Kelihatannya cukup nyaman untuk ditinggali, meski agak jauh dari tempat penjual makanan. Halamannya tak seperti yang ditempatinya sekarang. Hanya teras pembatas halaman untuk sekedar berdiri memandangi jalan atau mengunjungi kawan setempat yang berjejer memanjang bersebelahan satu sama lain. Di ujung jalan hanya ada satu warung nasi yang bersebelahan dengan warung sembako. Tapi sepertinya itu tak menjadi soal baginya. Setelah yakin akan keputusannya, Rhaka beranjak dari tempat, menyambar handuk yang menggantung di balik pintu, lalu bergegas pergi ke kamar mandi.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #9)


Karya : Ipey

        Deras hujan di pagi ini membuat perasaannya tak menentu. Hatinya menjadi khawatir dan bertanya-tanya, apakah yang dinanti-nantikan akan datang seperti janjinya kemarin sore atau bagaimana. Beberapa kali ia coba menghubungi, namun tak ada jawaban dari seberang sana, sampai akhirnya diminta untuk meninggalkan pesan. Ia bergerak cepat menuju pintu setiap kali terdengar bunyi klakson dari luar pagar rumahnya, dan untuk kesekian kali juga ia harus menarik napas kekecewaan.

Dua jam lebih ia menunggu di ruang tamu dengan harap-harap  cemas, hingga hujan deras menyisakan gerimis panjang. Tak  lama berselang bel pun berbunyi nyaring melegakan perasaannya. Seketika wajah muram itu berubah saat seseorang melambaikan tangan dari luar pagar dengan melemparkan senyum ke arahnya. Tanpa pikir panjang ia bergegas membukakan pintu pagar, mempersilahkannya masuk. Setelah mengambil beberapa barang dari bagasi mobilnya, Arin mengikuti tuan rumah ke ruang tengah.
“Beberapa kali tadi aku menghubungimu, tapi tak ada jawaban”. Ucap tuan rumah tanpa menghentikan langkahnya. Arin menimpali perkataan tuan rumah sambil memegangi pergelangan tangannya.
“Aduh sorry banget Bay, tadi itu aku sedang nyetir mobil. Beneran Bay. Sorry banget ya”. Arin coba memberi alasan seraya memohon mempercayai ucapannya.
“Yang penting sekarang aku sudah disini kan Bay”. Ucapnya kemudian.
Lembayung tak menanggapi dengan sepatah katapun. Arin hanya menerima tatapan mata lucu dengan bibir monyong didorong ke depan. 

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #8)


Karya : Ipey

        Jarum jam menunjukkan pukul 18.15 wib ketika mereka tiba di tujuan. Rhaka mohon pamit pergi ke toilet, menyela saat Lembayung memesan meja untuk mereka. Ia coba meyakinkan bahwa Rhaka pergi ketempat seperti yang dikatakan tadi padanya. Merasa kurang atas tindakan kekhawatirannya, ia meminta tolong salah seorang pekerja disana untuk memastikan yang datang bersamanya tidak pergi kemana-mana.
Rhaka membasahi wajah dan helai rambutnya dengan air kran di wastafel dekat pintu keluar masuk toilet. Kepalanya menunduk hampir menyentuh pegangan kran air dengan kedua tangan berpegang pada wastafel. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan pada Lembayung. Penjelasan seperti apa kiranya dapat membuat ia percaya padanya. Bagaimana caranya agar ia mengerti dan menerima apa yang telah terjadi. Sebentar ia pandangi dirinya di kaca cermin, kemudian beranjak menuju ruangan beralaskan karpet tak jauh dari sana.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #7)


Karya : Ipey

        Alunan lagu menyapa ramah para pengguna jasa angkutan bis kota jurusan Cicaheum saat rintik hujan datang menyirami kota kembang siang itu. Lagu “Yang Terlupakan” milik penyanyi kenamaan negeri ini menjadi penutup pertemuannya dengan beberapa penikmat keromantisan suasana langit redup berhias tetes air hujan dari atas sana.
“Yaah itulah beberapa bait kata dengan alunan nada yang mungkin terdengar sumbang di telinga anda semua. Untuk itu dengan segala hormat diiringi ketulusan hati, kami mohon maaf apabila telah mengusik ketenangan anda selama perjalanan. Semoga rintik hujan diluar sana menyentuh keikhlasan untuk memberi setitik rezeki pada pengamen tak tahu diri ini. Tetap berhati-hati selama diperjalanan, pastikan barang anda tak terjamah  tangan-tangan jahil yang mengharap kelengahan anda semua. Terima kasih pada bapak sopir dan bapak kondektur atas kerelaannya memberi sedikit waktu kepada pelantun nada ini  untuk ikut mengais rezeki di sela-sela kesibukan anda, dan kepada para penumpang kami ucapkan selamat menikmati hari teriring do’a semoga anda selamat sampai tujuan”.  Ucapnya tanpa ragu. Meski tersirat malu, diantara langkah-langkah kaki dengan wajah sedikit menunduk hormat pada setiap penumpang, tak terkecuali juga pada mereka yang memberinya kata maaf.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #6)


Karya : Ipey

        Rasa mual mendorongnya memuntahkan kembali makanan yang telah dikonsumsinya. Ia memaksakan berjalan meski sempoyongan, memegangi tembok sambil menahan rasa pening dikepala. Jari-jari dikedua tangannya terkepal dan bergetar menahan dingin yang merasuki tubuhnya meski sweater dan selimut memabalutinya. Perlahan beranjak dari tempat tidur, mengambil kaus kaki untuk kemudian memakaikannya dengan harapan dapat mengusir rasa dingin menyelimutinya. Namun itu pun sia-sia, karena tak memberi pengaruh berarti terhadap apa yang dirasakan. Dua butir obat sekaligus yang ia minum sebelum berbaring belum juga menunjukkan kemanjuran khasiatnya. Hanya meringis dan mengaduh dapat ia lakukan, tak lebih tak kurang. Keringat dingin perlahan merambati pakaiannya, hingga tembus membasahi tempat dimana ia berbaring tak berdaya. Dalam hati ia berucap lirih. “Inikah saatnya Kau akan menjemputku pulang kepangkuan-Mu. Jika ini benar waktu untukku menghadap-Mu, mudahkan dan ringankanlah dengan segala kuasa-Mu. Bawa aku dengan kelembutan untuk keikhlasanku. Namun apabila ini hanya sekedar bentuk rasa kasih sayang-Mu, percepatlah untuk kesembuhannya”.
Sebentar kemudian matanya meredup. Pandangan disekelilingnya tampak seperti bayangan, samar-samar menghilang dan kemudian semuanya menjadi gelap.   

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #5)


Karya : Ipey

        Gema adzan maghrib tak menyurutkan pengunjung datang ke tempat perbelanjaan meski hanya untuk sekedar jalan-jalan melihat barang dagangan terpajang di tiap etalase atau menggantung di rak pakaian yang ditata sedemikian rupa untuk menarik minat para calon pembeli. Di parkiran kendaraan roda dua berderet rapi hingga tepi garis batas peruntukannya. Berbagai jenis kendaraan roda empat berjejer menyamping dari ujung tenda pujasera sebalah barat hingga ujung timur. Sementara disamping mesjid tak jauh dari sana, orang bergantian mengantri untuk mengambil air wudhu. Sepertinya cuaca hari ini memberi peran penting pada aktivitas sosial perekonomian yang sedang menggeliat, meronta sambil berlari mengejar ketertinggalan, dimana menurut para pelaku pasar serta pemangku kebijakan perlu menyikapinya dengan seksama guna kemajuan kedepan. Sektor perdagangan rupanya telah menjadi salah satu pertimbangan khusus di kota ini selain perbaikan infrastruktur sebagai sarana penunjang aktifitas roda perekonomian, sehingga diperhitungkan demi mendongkrak pendapatan daerahnya. Mungkin karena sektor wisata yang telah didahulukannya tidak begitu menjanjikan kemajuan bagi kotanya. Sektor wisata yang diimpikan dapat menyedot perhatian pengunjung guna mendongkrak sektor lainnya ternyata tidak membuahkan hasil yang optimal seperti yang diinginkan.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #4)

 
Karya : Ipang
        Dipandanginya langit-langit kamar dengan tatapan menerawang jauh setinggi langit diangkasa. Warna catnya sebagian memudar disana-sini. Namun meski demikian tak nampak sarang laba-laba bergelantungan di pojok-pojok atap, begitupun dibagian-bagian lainnya. Di atas meja seduhan kopi hanya tinggal satu tegukan saja untuk menyisakan ampasnya.
Lamunannya tiba-tiba dibuyarkan bunyi rintik hujan berirama menyentuh daun-daun kering di halaman rumah pemilik kost. Rendy secepatnya beranjak dari tempat tidur, berlari menuju halaman samping untuk mengambil jemuran pakaian yang tadi pagi ia cuci sebelum berangkat pergi. Setelah menyimpan pakaian, ia hempaskan tubuhnya di kursi, kemudian meraih gelas kopi dan menghabiskan tegukan terakhirnya.
Lembaran kertas yang menumpuk tak beraturan di atas meja ia rapikan perlahan. Di tangannya kini tergenggam satu bundel kertas poto copy berisi pernyataan sikap dari kelompok yang mengatas namakan diri sebagai Komunitas Peduli Rakyat Kecil (KPRK), lengkap dengan tanda tangan serta stempel di lembaran akhir. Otaknya berputar menyikapi uaraian pernyataan sikap tersebut. Di tengah-tengah keseriusannya, ia teringat akan pertemuan di basecamp tadi malam dengan beberapa kawan seperjuangannya. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa sahabatnya tak pernah datang ke basecamp setelah pertemuannya dua minggu yang lalu. Kemana dia selama ini, menghilang tanpa kabar berita. Tak biasanya ia seperti itu. Banyak hal sesungguhnya ingin ia diskusikan dengannya. Meski terkadang tak selalu bersepakat dengan apa yang ia dan kawan-kawannya inginkan. Ia coba mengingat-ingat kembali pertemuan yang melibatkan sahabatnya saat itu. Tapi Rendy tak mendapatkan sesuatu apapun di memory pikirannya. Ia pikir semua berjalan baik-baik saja. Ketika itu dia tak menunjukkan tanda-tanda ketidaksepakatannya, tapi mengapa tiba-tiba kini ia seolah menghindar dari kawan-kawan dan sahabatnya. Sungguh, Rendy tak dapat memahaminya, semua diluar dari kebiasaan sikapnya. Ia pikir sejauh ini semuanya masih dalam kendalinya dan juga Yori, tapi ternyata tidak. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari pergerakannya. Ada kehampaan dalam langkah-langkahnya. Benaknya semakin larut dalam pencarian sesuatu yang tak berujung. Sebentar kemudian secara reflek ia menggeser tubuh dan menoleh ke arah pintu yang sengaja terbuka ketika seseorang menegur tanpa menjawabnya.
“Sudah lama kau berdiri disitu Ka?”. Ucap Rendy spontan sambil menatap sahabatnya. “Kemana aja menghilang tanpa kabar?”. Sambungnya kemudian, setelah pertanyaan pertamanya tak mendapat balasan. Rhaka masih juga tak menyahut. Ia membungkuk, melepas tali sepatu satu persatu, kemudian nyelonong masuk. Setelah melepas jaket dan menggantungkannya dibalik pintu, ia mulai membuka suara. “Masih ada segelas kopi disini Ren?”. Pertanyaan pertama Rhaka pada sahabatnya. Rendy tak menjawab. Ia beranjak dari tempat, kemudian mengambil gelas untuk membuatkan seduhan kopi.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #3)



Karya : Ipey
        Langit tampak murung ketika sayap merpati bersembunyi dibalik reruntuhan. Riak air mencibir tumpukan sampah berserakan sepanjang pinggiran sungai yang dilaluinya. Tangan-tangan mungil bertebaran di setiap lampu merah, halte bis dan pintu-pintu gerbang terminal, disaat teman sebayanya duduk rapi dibangku-bangku sekolah. Seorang ibu tua tanpa lelah memikul beban keluarganya dengan tanpa henti menjajakan barang dagangannya. Berpasang-pasang mata menatap tak acuh tubuh renta berjanggut putih ketika menengadahkan tangan mengemis untuk sesuap nasi. Sementara di bawah pohon rindang sekelompok lelaki asyik menghamburkan uang, mengadu peruntungan dengan sesama temannya.
Para pelajar menyimpan rapi senjata tajam dan perlengkapan tempurnya di balik pakaian serta tas gendong, yang semestinya hanya berisi buku dan peralatan sekolah demi wawasan keilmuannya. 
Sungguh realitas kehidupan kota yang sering kali dijumpai, tanpa bisa dipungkiri. Laju pembangunan seakan menjauhkan sentuhan manusiawi, bahkan mungkin mengesampingkan hal-hal sedemikian. Bukan tak meng-amini setiap keinginan memacu roda-roda kebanggaan, namun keseimbangan semestinya manjadi salah-satu acuan tak terpisahkan, sehingga keharmonisan dan keselarasan senantiasa terjaga. Hukum alam, seleksi alam menyatakan ketegasannya tanpa banyak bicara untuk diperdebatkan. Percepatan kini menjadi satu alasan sebagai alibi bagi pertanyaan, tak perduli lagi apakah itu kebenaran atau pembenaran. Persoalan pembenahan bagai panorama alam terselimuti kabut tebal, sehingga membutuhkan sesuatu untuk menembus keindahan bahkan keterkoyakannya. Keringat, pengorbanan, bahkan tetesan darah dijadikan selogan demi mempertahankan harga diri, harkat dan martabat, meski mungkin sesungguhnya hanya demi ambisi dan nafsu belaka. Kesenjangan sosial semakin merajalela, memicu kecemburuan melakukan hal-hal diluar kemanusiaannya. 
Benarkah demikian adanya?. Tak adil kiranya begitu saja menghakimi, tanpa mencari tahu terlebih dahulu alasan sesungguhnya dari setiap tindakan yang mendasarinya.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #2)


Karya : Ipey
           Butiran embun menetes perlahan dari ujung dedaunan, menyentuh  tanah basah siraman hujan tadi malam. Kabut tipis perlahan menepi ditiup semilir angin pagi, membuka jangkauan mata para pejalan kaki menuju tempat keinginanannya. Mentari pun tersenyum memberikan kehangatan pada rumput ilalang di pekarangan rumah seberang jalan, tak terkecuali burung-burung yang hinggap didahan pepohonan. Mereka saling berbagi sambil sesekali mengepakkan sayap, menyingkirkan kutu-kutu di tubuhnya. Nyanyian kehidupan sayup-sayup menyapa,  bangunkan mimpi mereka di lelap tidurnya. Jendela kamar satu persatu terbuka mempersilahkan udara segar memasuki ruang-ruang, menyentuh wajah-wajah penghirup kebebasan. Berpasang-pasang mata menatap masa depan dengan sejuta harapan tergenggam erat tak terlepaskan. Belenggu selimut ketidakpastian coba disingkirkan, ditepiskan untuk menjauh dari kesungguhan. Berpaling dari kemalasan, kebosanan dan keraguan demi sebutir rezeki dari kasih sayang-Nya.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #1)


Karya : Ipey

          Tanpa pikir panjang lagi ia pergi meninggalkan halaman kampus  setelah sebelumnya berpamitan dengan kawan-kawannya. Perlahan langkah kakinya menapaki trotoar jalan menuju arah pulang. Daun-daun kering berterbangan ditiup angin, menghiasi suasana peralihan redup cahaya senja menuju gelapnya malam. Melangkah dan terus melangkah tanpa menghiraukan hiruk pikuk kendaraan yang melintas di jalan raya, hingga suara adzan maghrib berkumandang jelas nyata terdengar ditelinga, Rhaka menghentikan langkahnya sejenak, kemudian memutar arah menuju sumber suara adzan berkumandang. Setelah melepas sepatu lusuhnya, ia beranjak menuju tempat wudhu. Diteguknya air keran yang ia tadahkan di kedua tangannya selepas berwudhu untuk melepas dahaga. Sementara itu didalam mesjid para pengabdi Tuhan telah berderet rapi dibelakang imam untuk memulai shalat berjama’ah. Setengah berlari Rhaka memasuki mesjid sambil membuka jaket jeans yang membalut tubuhnya.
        Niat Rhaka untuk melanjutkan langkahnya tertahan curah hujan yang tiba-tiba bertebaran membasahi pelataran mesjid dan sekitarnya. Ia pandangi langit gelap dengan tatapan mata penuh harap. Sementara di dalam mesjid para pengabdi Tuhan masih tampak duduk bersila, namun kini tak berderet seperti tadi. Terdengar sang imam menyampaikan beberapa hal, kemudian para jama’ah mulai melafalkan bacaan mengikuti imam mesjid yang tadi memimpin shalat berjama’ah. Setelah menimbang sejenak, ia putuskan untuk kembali ke dalam dan bergabung dengan mereka, sambil menunggu hujan reda. Di sela-sela pembacaan do’a, dua orang masuk membawa keranjang berisi bungkusan terbalut kantung plastik berwarna gelap. Ia sodorkan bungkusan itu pada orang yang duduk bersila di gerbang pintu samping, kemudian secara estafet menyodorkan pada jama'ah yang berada disana.
"Alhamdulillah, kalau rezeki memang tak kemana". Ucap syukurnya dalam hati.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #20)

             Karya : Ipey       Bayang-bayang senyuman diwajah merah merona berbalut keteduhan dan kelembutan tak jua sirna dar...