Karya : Ipey
Dengan suara nyaring dan lantang ia berkokok, mengucapkan selamat pagi pada jiwa-jiwa yang bersembunyi dibalik selimut mimpinya tadi malam. Burung-burung menanti sinar mentari datang menghangatkan tubuhnya, setelah sepanjang malam berdiam diri di sarang-sarang tanpa kata. Rembulan pun perlahan pergi menjauh melanjutkan petualangan ke belahan dunia lainnya, seperti yang telah digariskan alam semesta, dengan membawa berbagai kisah ke tujuan berikutnya tanpa banyak bicara. Trotoar jalan memasang kuda-kuda, bersiap diri diinjak-injak para pejalan kaki tanpa henti, sampai mereka lelah untuk melangkah. Beningnya embun perlahan berjatuhan dari ujung dedaunan, membasuh tanah kering di pelataran rumah.
Rhaka menyempatkan diri merapikan tempat
tidur sebelum ia pergi. Setelah memastikan semuanya aman, ia melangkah berteman
gitar kesayangan terbungkus sarungnya ditentengan tangan. Ia harus sampai di
tujuan sebelum matahari beranjak semakin tinggi, seperti janjinya pada Diana
yang kini menunggu kedatangan Rhaka, guna mengantarnya ke terminal untuk menuju
kampung halaman.
Bus
terminal antar kota berjejer di jalurnya masing-masing, sesuai kota tujuan yang
akan ditempuhnya. Rhaka mencarikan tempat duduk untuk Diana menikmati
perjalanan hingga sampai di tempat tujuan. Tak lama kemudian bus pun melaju
perlahan. Itu tanda perpisahan sementara bagi mereka, dan Rhaka harus rela
membalas lambaian tangan Diana yang tampak tulus menyelipkan senyum di
bibirnya, sebelum tikungan jalan menghapus pandangan mata mereka berdua.
Baru beberapa menit berselang Diana
merasakan ada sesuatu yang hilang darinya. Tak ada bahu disampingnya, tempat
dimana ia menyandarkan keluh kesah, mencurahkan isi hati dikala merasa gundah.
Kuncup rindu pun perlahan mekar disanubari tanpa sanggup ia hindari, meski ini
bukan kali pertama ia mengenal cinta. Mungkin begitulah adanya jika asmara
telah merasuk ke dalam jiwa. Perlahan tapi pasti ia datang tanpa disadari, serta
sulit untuk dihindari ketika ia meminta pergi meski dengan permisi.
Rhaka
bergerak menjauh dari terminal bus antar kota, menelusuri trotoar jalan hingga
akhirnya berhenti di depan sebuah rumah makan. Setelah berbincang sejenak
dengan seseorang disana, ia mempersiapkan perlengkapannya sebelum mulai
melantunkan nada. Hanya tersisa satu meja kosong di sudut ruangan. Tanpa
menunggu pengunjung datang menempati meja yang belum terisi, Rhaka mulai
melantunkan lagu setelah sebelumnya menyampaikan kata-kata pembuka seperti
biasa.
Rhaka berusaha membaca suasana para
pengunjung disela-sela lantunan lagu yang dibawakannya. Pada awalnya ada
beberapa raut wajah dan sikap menampakkan ketidaknyamanan. Rhaka coba mencari
tahu, apakah karena lagu yang dibawakannya atau memang terganggu dengan
keberadaannya. Satu lagu sudah ia persembahkan sebagai ucapan selamat datang
dan selamat menikmati sajian yang disuguhkan. Baru di lagu kedua Rhaka merasa
lebih santai, menemani penikmat kuliner kota kembang tanpa beban di setiap
alunan nadanya. Pengunjung pun datang dan pergi silih berganti. Rhaka menerima beberapa
lembar kertas bertuliskan judul lagu dari para pengunjung yang dititipkan pada
seorang karyawan disana.
Ia menarik nafas lega karena lagu yang
diminta bisa ia bawakan tanpa melihat wajah ketidakpuasan dari para pengunjung.
Rhaka menyampaikan ucapan terima kasih serta salam hormat setelah menerima
lembaran uang kertas yang diselipkan ditangan, ketika mereka menyalaminya
sebelum pergi. Dan jarum jam di dinding ruangan saat itu telah menandakan ia harus berganti tempat
dengan teman lainnya. Setelah mohon pamit ia tak menunda waktu untuk segera
pergi, karena hari ini ia harus melanjutkan aktifitasnya kembali di tempat yang
berbeda.
Langkah kakinya terpaksa berhenti tiba-tiba ketika tangan seseorang memegangi pundaknya dari belakang. Ia menoleh kearah pemilik tangan di pundaknya, lalu kemudian membalikkan badan. Sejenak ia terdiam memandangi pria dihadapannya. Keningnya berkerut coba mengingat sesuatu, ia pikir barangkali mengenalnya. Tapi seingatnya ia tak pernah bertemu, apalagi mengenal siapa orang ini.
“Mungkin kau tak pernah melihatku
sebelumnya, karena memang kita baru bertatap muka kali ini. Tapi aku pernah beberapa kali melihatmu di
sekitaran kampus dan di tempat lainnya”. Papar lelaki itu coba menjelaskan
keadaan.
“Terus kalau bolah aku tahu, maksudmu
mendatangiku untuk keperluan apa ya?”. Tanya Rhaka dengan wajah penasaran.
"Oh ya, perkenalkan, aku Rumie". Pria itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Rhaka menerima uluran tangan sambil menyebutkan nama untuk pria bernama Rumie. Setelah berbincang beberapa saat, mereka pergi ke tempat yang disepakati bersama.
Rumie menawarkan Rhaka untuk
memesan sesuatu pada pramusaji, setelah ia memesan terlebih dahulu.
“Aku minta secangkir coffee dengan gula
terpisah dan tanpa cream”. Pinta Rhaka pada pramusaji.
Rumie mulai mengarahkan pembicaraan pada
maksud yang ingin ia sampaikan, ketika pramusaji meletakkan pesanan mereka
dimeja.
Dengan gaya bicaranya yang santai ia bertutur kata.
“Berawal ketika disuatu tempat aku mendapati
dompet yang ditinggal pemiliknya tanpa sengaja di atas meja. Hanya berselang
beberapa saat ia kembali dan menanyakan sesuatu padaku, karena kebetulan aku
menempati meja yang ia tempati sebelumnya. Aku pun memberikan dompet itu pada
pemiliknya, lalu kemudian kami saling berkenalan. Setelah perkenalan itu,
beberapa kali sengaja aku menemuinya untuk sekedar mengobrol atau mengajaknya
makan bersama. Hingga suatu waktu terucap kata jika aku menaruh hati pada teman
wanitaku itu, dan ia membuka hatinya lebar-lebar untukku”. Rumie menahan
sejenak penuturannya untuk menikmati jus mangga yang tadi ia pesan. Rhaka mulai
menebak-nebak akhir cerita yang dikisahkan padanya. Ia meneguk coffee setelah
membubuhi sedikit gula kedalam cangkirnya. Rumie pun tersenyum, kemudian ia kembali
melanjutkan penuturannya.
"Kalau aku tidak salah, setahun lebih-kurang aku menjalani hubungan baik dengannya, sampai suatu ketika ia memutuskan untuk mengambil jalan sendiri-sendiri. Aku tahu itu karena salahku, dan aku tak ragu mengakuinya. Namun sampai kini aku belum menemukan kata yang mampu membuatnya memaafkan kesalahan yang telah aku perbuat ".
Rhaka memotong penuturan Rumie dengan
pertanyaan seadanya.
“Kalau boleh aku tahu, apa yang telah kau
lakukan hingga ia belum bisa memaafkanmu?. Mungkin aku bisa membantumu
mencarikan kata maaf buatnya”.
Sebenarnya hati kecil Rhaka sudah dapat
menebak kemana arah pembicaraannya, tapi ia berusaha menahan diri untuk tidak mendahului. Logikanya telah memberi cukup jawaban, sehingga ia telah bersiap
menghadapi apapun yang akan terjadi kemudian.
“Kesalahanku karena aku tak jujur padanya.
Aku tak bicara terus terang jika aku masih menjalin hubungan dengan wanita lain
ketika aku menjalin hubungan dengannya, hingga akhirnya ia mengetahui itu dari
orang lain dan ia membuktikannya sendiri. Tak lama kemudian pacarku yang dulu
pun memutuskanku”. Papar Rumie menyiratkan penyesalan di raut wajahnya. Rhaka merasakan
sesuatu menggelitik tenggorokannya, hingga sebagian coffee dimulutnya tersembur
keluar. Rhaka mengambil tissue dimeja untuk menyeka coffee di seputar bibirnya.
Rumie meraih juice dan meneguknya tanpa sedotan, lalu kembali melanjutkan
kisahnya.
“Aku mulai berpikir dan terus berpikir,
hingga aku putuskan untuk berbaikan dengan salahsatu dari mereka. Dan wanita
itu dulu pernah beberapa kali aku ajak kesini untuk sekedar menikmati waktu
kebersamaan sambil bertukar cerita dan pengalaman. Jika datang ketempat ini ia
selalu memilih meja yang sekarang aku tempati. Aku tak tahu alasannya kenapa,
dan itu tak pernah aku tanyakan padanya. Lalu kemudian ia memesan juice alpukat
dengan sedikit susu coklat kesukaannya”.
Sejenak Rhaka terdiam memandangi cangkir
coffee, hatinya berucap bahwa wanita yang disebut Rumie memiliki selera yang sama
seperti wanita yang dikenalnya. Namun ia masih tetap bertahan untuk tak bicara.
Dengan sabar ia menunggu penuturan Rumie selanjutnya.
“Aku mencintainya lebih dari aku mencintai
diriku sendiri. Karena itu aku tak ingin kehilangannya, dan aku tak rela bila ia
terluka. Namun belakangan aku tahu dari temanku, jika kini telah ada seseorang
mengisi hari-harinya. Untuk itu aku berusaha mencari tahu kebenarannya. Dan
suatu hari aku sempat melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, ia jalan berdua
dengan seorang lelaki di area perbelanjaan. Mulai dari situ, aku coba mencari tahu
siapa lelaki yang bersamanya”. Rumie terdiam sejenak, menatap gumpalan awan sambil
menarik nafas panjang.
"Tadi pagi aku melihatnya kembali, dan masih dengan pria yang sama seperti yang aku lihat di area perbelanjaan waktu itu. Karena dari rumah aku belum sempat sarapan, maka aku mampir di sebuah rumah makan. Makanannya lumayan bersahabat dengan seleraku, dan suasananya cukup nyaman. Para pengunjung disana bisa menikmati santapanya sambil mendengarkan alunan musik ". Rumie menghentikan penuturannya sesaat untuk meneguk juice yang masih tersisa.
Rhaka menarik kursi kedepan, meraih cangkir
coffee dan meneguknya perlahan. Ia mulai tak sabar untuk berkata-kata. Kedua
tangannya memegang cangkir coffee, dan sesekali menggeser-geserkannya.
“Apakah kemudian kau berkenalan dengan
lelaki itu dan mengajaknya ketempat ini untuk bicara denganmu?”. Tanya Rhaka
setenang mungkin.
Rumie menundukkan kepala dengan mata terpejam, lalu mengangkatnya kembali perlahan, kemudian menatap kedepan dengan pandangan jauh menerawang.
"Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya ketika teman-temannya tahu siapa pria yang selalu bersamanya. Dan aku sangat tak ingin jika itu terjadi padanya ". Rumie mulai menyampaikan maksud sebenarnya mengajak Rhaka bicara di tempat itu.
Rhaka menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
“Aku mengerti maksudmu kawan. Jika tak ada
hal lain yang ingin kau sampaikan, aku masih harus melanjutkan aktifitasku hari
ini. Terima kasih atas secangkir coffee-nya”. Ucap Rhaka berpamitan.
Sepanjang
perjalanan Rhaka berusaha tak memikirkan pembicaraannya dengan Rumie. Ia pun berupaya sekuat mungkin agar tetap merasa nyaman selama diperjalanan. Masih ada hal lain yang lebih penting untuk di utamakan, daripada memikirkan
hal yang akan menghambat laju kehidupannya. Melangkah dan terus melangkah
hingga ia sampai di kost-an, untuk kemudian bersiap melanjutkan aktifitasnya di
kampus.
Selepas menyirami tubuh untuk kesegarannya, Rhaka berganti pakain, lalu
memasukkan beberapa buku kedalam tas gendong, kemudian beranjak pergi dengan langkah pasti menuju
arah tujuan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar