Powered By Blogger

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #15)



Karya : Ipey

     Hampir semalaman ia tak henti merenungkan apa yang telah dilakukannya beberapa waktu kebelakang. Dibuka kembali lembar demi lembar buku catatan yang tersimpan rapi dibawah tumpukan pakaian, tanpa melewatkan satu katapun disetiap halamannya. Dua gelas seduhan kopi sudah ia habiskan untuk menghindari rasa kantuk yang bisa saja tiba-tiba datang. Setelah menyimpan buku catatan ketempat semula, Rhaka merebahkan diri ditempat tidur sambil memainkan senar-senar gitar. Dipetiknya perlahan agar tak mengganggu waktu istirahat penghuni kost lainnya. Nyanyian binatang malam tak bosan-bosan menemani kesendirian melewati detik-detik berjalan tanpa bisa dihentikan. Getar dawai gitar ia hentikan ketika terdengar langkah berjalan. Tak lama berselang suara nyaring bergema ditelinga ketika seseorang memukul benda keras diluar sana, memberitahukan bahwa mereka sedang menjalankan tugas malam di lingkungannya. Rhaka memadamkan cahaya terang yang menempel di langit-langit kamar, lalu menekan saklar guna memberikan suasana redup disekitar ia merebahkan diri. Sebelum terlelap ia berharap hari esok memberinya kehidupan lebih baik dari hari ini.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #14)


Karya : Ipey

    Meski tak pandai merangkai kata-kata seindah syair para pujangga kenamaan dibelahan dunia, Rhaka berusaha menuangkan segala yang tersimpan di benak pikirannya. Kata demi kata mulai berderet perlahan menyusun rangkaian makna, tanpa berpikir apakah orang lain akan mengerti atau tidak tentang apa yang digoreskan, andai mereka tak sengaja membacanya. Ia hanya berusaha mencurahkan isi hati dan perasaannya untuk disimpan sendiri, dan kelak menjadi lembar kenangan bahwa ia pernah melewati masa-masa itu. Alasannya sederhana saja, agar ia senantiasa mengingat apa yang telah dialami, sehingga bisa memetik pelajaran dari setiap kesalahan, kekhilafan dan apapun itu demi kebaikannya semata. Kata-kata pujian, cibiran, caci maki dan sumpah serapah yang ia terima, menjadi irama bagi ujung pena melukiskan peristiwa. Berteman angin malam bertiup perlahan menyapa kesunyian, berkawan bintang-bintang dan rembulan bercahaya merona, ia mengulas langkah-lagkahnya menapaki bumi tanpa bicara. Dan di akhir kalimat penutup berhurup kapital dan tercetak tebal penanya, terangkaikan sederet kata dengan tanda kutip diawal dan akhirnya,
“dan Akupun sadar diri, karena aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa”.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #13)


Karya : Ipey

        Dengan suara nyaring dan lantang ia berkokok, mengucapkan selamat pagi pada jiwa-jiwa yang bersembunyi dibalik selimut mimpinya tadi malam. Burung-burung menanti sinar mentari datang menghangatkan tubuhnya, setelah sepanjang malam berdiam diri di sarang-sarang tanpa kata. Rembulan pun perlahan pergi menjauh melanjutkan petualangan ke belahan dunia lainnya, seperti yang telah digariskan alam semesta, dengan membawa berbagai kisah ke tujuan berikutnya tanpa banyak bicara. Trotoar jalan memasang kuda-kuda, bersiap diri diinjak-injak para pejalan kaki tanpa henti, sampai mereka lelah untuk melangkah. Beningnya embun perlahan berjatuhan dari ujung dedaunan, membasuh tanah kering di pelataran rumah.
Rhaka menyempatkan diri merapikan tempat tidur sebelum ia pergi. Setelah memastikan semuanya aman, ia melangkah berteman gitar kesayangan terbungkus sarungnya ditentengan tangan. Ia harus sampai di tujuan sebelum matahari beranjak semakin tinggi, seperti janjinya pada Diana yang kini menunggu kedatangan Rhaka, guna mengantarnya ke terminal untuk menuju kampung halaman.
      Bus terminal antar kota berjejer di jalurnya masing-masing, sesuai kota tujuan yang akan ditempuhnya. Rhaka mencarikan tempat duduk untuk Diana menikmati perjalanan hingga sampai di tempat tujuan. Tak lama kemudian bus pun melaju perlahan. Itu tanda perpisahan sementara bagi mereka, dan Rhaka harus rela membalas lambaian tangan Diana yang tampak tulus menyelipkan senyum di bibirnya, sebelum tikungan jalan menghapus pandangan mata mereka berdua.
Baru beberapa menit berselang Diana merasakan ada sesuatu yang hilang darinya. Tak ada bahu disampingnya, tempat dimana ia menyandarkan keluh kesah, mencurahkan isi hati dikala merasa gundah. Kuncup rindu pun perlahan mekar disanubari tanpa sanggup ia hindari, meski ini bukan kali pertama ia mengenal cinta. Mungkin begitulah adanya jika asmara telah merasuk ke dalam jiwa. Perlahan tapi pasti ia datang tanpa disadari, serta sulit untuk dihindari ketika ia meminta pergi meski dengan permisi.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #20)

             Karya : Ipey       Bayang-bayang senyuman diwajah merah merona berbalut keteduhan dan kelembutan tak jua sirna dar...