Powered By Blogger

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #18)


Karya : Ipey

     Butiran bening yang menggelayut diujung dedaunan satu persatu berjatuhan ke tanah dan menebar bau basah. Kabut tipis perlahan menepi ditiup hembusan angin seiring senyum mentari menyapa pagi. Tarikan nafas panjang serta gerak gemulai berirama menikmati udara lepas tanpa polusi dan radiasi limbah industri. Gemericik suara air mengalir memberi suasana sejuk dan damai tanpa rasa dengki menyelimuti. Awan putih pun melengkungkan senyumnya dengan tulus dan ikhlas tanpa berharap balas. Hamparan rumput hijau dan pepohonan sepanjang bukit menuntun hati mengucap syukur akan karunia sang pencipta. Bersyukur karena diantara gedung-gedung tinggi yang bertebaran ditiap penjuru kota masih terdapat tempat untuk menikmati suasana alam berbalut sentuhan alami. Santun kata dan sikap ramah serta tegur sapa menghiasi tradisi yang semestinya dijunjung tinggi, sehingga sikap hidup bertoleransi menjadi pilar suci dalam kehidupan ini. Tak ada kasta yang membentengi, tak memepersoalkan status sosial dalam berbagi suka dan penderitaan. Berharap disetiap keyakinannya tertanam bahwa dimata Tuhan semuanya sama, yakni sebagai makhluk ciptaan-Nya.

       Sujud syukur berucap do'a ia sampaikan atas segala karunia dan kasih sayang-Nya. Hatinya memohon agar senantiasa dijauhkan dari prasangka buruk terhadap sang maha segalanya, dijauhkan dari sifat iri dengki dan sifat-sifat lainnya yang akan membuat Tuhan murka. Menyadari sepenuhnya atas segala kekhilafan dan kelalaian yang telah diperbuatnya, Rhaka pun menyerahkan segalanya pada penguasa alam semesta teriring pinta, semoga Tuhan tetap mencurahkan kasih sayang padanya. Berbagai cela dan hina ia jadikan sebagai pengingat untuk senantiasa bersikap sabar dalam menghadapi segala persoalan. Menghapus luka untuk setiap perkataan menyakitkan dan setiap sikap yang merendahkan. Berusaha tetap tersenyum meski perih menghimpit setiap langkahnya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan demi menepis rasa dendam. Dan pagi ini ia hanya ingin melewati hari dengan tenang seperti layaknya air mengalir dari hulu ke hilir, sampai bertemu dimuara dan kemudian menyatu disamudera lepas. Berusaha melupakan sikap orang tua Diana terhadapnya ketika ia berkunjung ke rumahnya tempo hari. Akal sehat dan pikiran dewasa menuntunnya untuk memahami bahwa itu sebuah kewajaran yang timbul karena kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Meski demikian rasa hormatnya kepada orang tua Diana tak berkurang atau hilang. Begitu juga rasa sayangnya terhadap Diana, tak menyurut berkurang sedikitpun. Biar waktu menjawab semua yang akan terjadi nanti, pikir Rhaka berusaha bijak menyikapinya.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #17)


Karya : Ipey

     Bagi Diana dan teman-temannya, hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan, karena sejak tadi malam hingga matahari berada tepat diatas sana mereka masih harus bergelut dengan aktifitasnya menyelesaikan persiapan pertunjukan untuk esok hari, yang berarti hanya menyisakan waktu beberapa jam kedepan. Sementara panitia penyelenggara saat itu baru sampai pada penataan panggung utama serta pemasangan tenda bagi para tamu undangan. Peralatan musik, lighting serta perlengakapan audio pendukung yang dijanjikan datang pagi hari, baru tiba sekitar pukul 12.45 wib. Keterlambatan mereka cukup beralasan, karena memang jalanan sepanjang menuju tempat kegiatan mengalami kemacetan. Masih bersyukur mereka dapat beristirahat sejenak, sementara para crew sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah memastikan semua peralatan tertata sesuai dengan keinginan panitia, sebagian dari mereka kembali pergi meninggalkan lokasi. Hanya operator dan beberapa crew saja yang tinggal untuk malakukan check sound, agar pada saatnya semua bisa berjalan dengan lancar sesuai keinginan yang diharapkan.
Diana yang bertugas sebagai koordinator penyelenggara acara kini dapat sedikit bernafas lega, karena dengan demikian ia hanya tinggal menyisakan 30 persen tugasnya untuk persiapan pelaksanaan kegiatan. Beberapa pengisi acara sudah memastikan diri akan hadir pada waktunya. Pimpinan kelompok teater Temperatur yang akan tampil di puncak acara pun telah menyatakan kesiapannya, dan malam nanti akan melakukan latihan pementasan dilokasi kegiatan. Sementara perwakilan dari pihak organisasi Palang Merah Indonesia (PMI) baru akan bertemu dengannya sore hari nanti untuk mempersiapkan tempat serta segala keperluan kegiatan Donor Darah yang akan dilaksanakan besok pagi sebelum acara pentas musik dimulai. Baligo, spanduk, serta atribut lainnya telah terpasang ditempat-tempat tertentu, sesuai perjanjian kerjasama acara yang telah disepakati kedua belah pihak antara panitia penyelenggara dengan berbagai pihak sponsor, dengan mengikuti ketentuan aturan mengenai pelaksanaan kegiatan sesuai ketetapan hukum yang berlaku.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #16)


Karya : Ipey

     Hujan deras yang datang menyapa senja kala itu mengharuskannya mencari tempat berteduh. Para pengendara roda dua menepikan kendaraan untuk memakaikan jas hujan sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Rhaka menyelinap diantara orang-orang yang berjejer  sepanjang gerbang toko, meminta berbagi tempat untuk berteduh. Tak lama kemudian air hujan menggenangi jalan raya, hingga ketika kendaraan melintas cepat memberikan percikan air pada mereka yang tengah berteduh disana. Teriakan protes serta caci maki memberi suasana gaduh sesaat, kemudian mereka terdiam kembali. Pepohonan disepanjang pinggiran jalan meliuk-liuk diterpa angin kencang disertai petir bersahutan. Curah hujan pun semakin deras, menghanyutkan segala benda hingga menjauhkannya dari tempat semula. Rhaka memeluk tubuhnya sendiri untuk mengusir rasa dingin dari hembusan angin yang tak henti bertiup. Kendaraan roda dua hampir tak terlihat melintas dijalan raya, begitupun para pengais rezeki dilampu merah kini tak nampak lagi dari pandangan mata. Mungkin mereka semua menepi mencari tempat berlindung dari derasnya curah hujan dan angin kencang serta petir yang menyambar bersahutan seakan tiada henti. Lampu-lampu penerangan jalan ditahan situasi dan kondisi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Para pemilik toko pun terpaksa menyalakan lilin atau lampu cadangan yang mereka miliki guna menerangi tempat usahanya. Tak sedikit dari mereka memutuskan untuk menutup toko lebih awal dari biasanya, dengan alasan demi keamanan. Tak terdengar gema adzan maghrib, meski waktu untuk itu sudah tiba. Dan seiring waktu berjalan, perlahan hujan pun mulai reda. Namun petir masih menyimpan rindu pada suasana hingga ia enggan untuk segera pergi menelusuri tempat lainnya. Setelah memaksakan berjalan menembus rintik hujan, Rhaka tergesa menaiki bus Damri untuk kemudian mengambil jok panjang dibelakang.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #20)

             Karya : Ipey       Bayang-bayang senyuman diwajah merah merona berbalut keteduhan dan kelembutan tak jua sirna dar...