Powered By Blogger

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #20)

            

Karya : Ipey

      Bayang-bayang senyuman diwajah merah merona berbalut keteduhan dan kelembutan tak jua sirna dari benaknya. Hingga larut malam menyapa, berbalut udara dingin mengelilingi kesendirian, ia masih duduk termenung memegang pena ditangan berteman cahaya lampu redup diatas meja. Sesekali pikirannya menerawang jauh ke masa lalu, memutar arah waktu, mencari sesuatu yang mungkin dapat membuka celah sebagai bekal baginya untuk melangkah menelusuri masa yang akan dilewati. Banyak kata ingin ia tuangkan dilembaran kertas putih yang setia menanti goresan hati, meski tak mudah merangkai kalimat hingga menjadikannya berarti. Mencoba mengambil hikmah dari setiap langkah, berharap kepasrahan menjadi jembatan perekat hati dengan ilahi. Menyikapi air mata dalam dekapan luka tanpa angkara murka, serta mensyukuri senyum bahagia tanpa berpaling dari-Nya, meski terkadang terbersit dendam disela-sela penderitaan. Dan seiring detik-detik jarum jam berdetak, batinnya pun perlahan mulai terusik untuk menuntun jemari tangan menggoreskan tinta.
Kalimat pertama yang ia tuliskan dengan mata berkaca-kaca membawa alam pikirannya ke dalam pencarian menuju singgasana-Nya.
"Aku ingin bertemu untuk mengadu pada-Mu, wahai zat yang maha bijaksana".
Hatinya pun bergetar ketika ia membaca ulang apa yang telah ia tuliskan. Bergetar melawan rasa takut bercampur rasa sedih yang membaur menjadi satu dalam hati serta pikirannya. Sejenak ia terdiam, lalu menutup buku catatan, lantas mematikan lampu di atas meja, dan kemudian merebahkan diri dipembaringan.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #19)


Karya : Ipey

      Malam ini bulan tak menampakkan senyum manisnya seperti biasa, begitupun bintang-bintang. Ia tak memperlihatkan kerlipnya yang bersahaja. Deras curah hujan memaksa mereka bersembunyi dibalik awan hitam, yang geram menyaksikan rekayasa terhadap kebenaran. Kebenaran semu atas hasil upaya pembenaran terhadap kesalahan yang nyata-nyata tampak didepan mata. Atau mungkin awan hitam sengaja menghalangi pandangan bintang-bintang diangkasa serta bulan yang biasanya merona merah menyaksikan panggung kehidupan dihamparan alam terbuka. Angin pun bertiup kencang seakan berteriak pada para penegak keadilan, memohon agar kebenaran tak diperjual belikan seperti barang dagangan. Dan kini binatang malam semakin jelas mengumandangkan lagu kematian, mengiringi jerit kesakitan para penuntut balas atas kesewenang-wenangan yang bertebaran hingga ke penjuru samudera. Para jelata merangkak dengan tangisan darah dan luka disekujur tubuhnya, hingga nurani pun terkoyak batinnya, tercabik-cabik tajamnya mahkota berhias derita disekelilingnya. Tetesan air dari ujung genting membawa khabar bahwa samudera tengah merasa gundah. Dan kegundahannya menebarkan gelombang ke segala arah, menyapu segala benda yang dilintasinya hingga terdampar dipesisir pantai. Apakah ini pertanda semesta akan murka?. Hanya nantilah yang akan membuktikan kebenaran sesungguhnya.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #18)


Karya : Ipey

     Butiran bening yang menggelayut diujung dedaunan satu persatu berjatuhan ke tanah dan menebar bau basah. Kabut tipis perlahan menepi ditiup hembusan angin seiring senyum mentari menyapa pagi. Tarikan nafas panjang serta gerak gemulai berirama menikmati udara lepas tanpa polusi dan radiasi limbah industri. Gemericik suara air mengalir memberi suasana sejuk dan damai tanpa rasa dengki menyelimuti. Awan putih pun melengkungkan senyumnya dengan tulus dan ikhlas tanpa berharap balas. Hamparan rumput hijau dan pepohonan sepanjang bukit menuntun hati mengucap syukur akan karunia sang pencipta. Bersyukur karena diantara gedung-gedung tinggi yang bertebaran ditiap penjuru kota masih terdapat tempat untuk menikmati suasana alam berbalut sentuhan alami. Santun kata dan sikap ramah serta tegur sapa menghiasi tradisi yang semestinya dijunjung tinggi, sehingga sikap hidup bertoleransi menjadi pilar suci dalam kehidupan ini. Tak ada kasta yang membentengi, tak memepersoalkan status sosial dalam berbagi suka dan penderitaan. Berharap disetiap keyakinannya tertanam bahwa dimata Tuhan semuanya sama, yakni sebagai makhluk ciptaan-Nya.

       Sujud syukur berucap do'a ia sampaikan atas segala karunia dan kasih sayang-Nya. Hatinya memohon agar senantiasa dijauhkan dari prasangka buruk terhadap sang maha segalanya, dijauhkan dari sifat iri dengki dan sifat-sifat lainnya yang akan membuat Tuhan murka. Menyadari sepenuhnya atas segala kekhilafan dan kelalaian yang telah diperbuatnya, Rhaka pun menyerahkan segalanya pada penguasa alam semesta teriring pinta, semoga Tuhan tetap mencurahkan kasih sayang padanya. Berbagai cela dan hina ia jadikan sebagai pengingat untuk senantiasa bersikap sabar dalam menghadapi segala persoalan. Menghapus luka untuk setiap perkataan menyakitkan dan setiap sikap yang merendahkan. Berusaha tetap tersenyum meski perih menghimpit setiap langkahnya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan demi menepis rasa dendam. Dan pagi ini ia hanya ingin melewati hari dengan tenang seperti layaknya air mengalir dari hulu ke hilir, sampai bertemu dimuara dan kemudian menyatu disamudera lepas. Berusaha melupakan sikap orang tua Diana terhadapnya ketika ia berkunjung ke rumahnya tempo hari. Akal sehat dan pikiran dewasa menuntunnya untuk memahami bahwa itu sebuah kewajaran yang timbul karena kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Meski demikian rasa hormatnya kepada orang tua Diana tak berkurang atau hilang. Begitu juga rasa sayangnya terhadap Diana, tak menyurut berkurang sedikitpun. Biar waktu menjawab semua yang akan terjadi nanti, pikir Rhaka berusaha bijak menyikapinya.

Dari Balik Kaca Jendela (Episode #20)

             Karya : Ipey       Bayang-bayang senyuman diwajah merah merona berbalut keteduhan dan kelembutan tak jua sirna dar...