Karya : Ipey
Bagi
Diana dan teman-temannya, hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan,
karena sejak tadi malam hingga matahari berada tepat diatas sana mereka masih
harus bergelut dengan aktifitasnya menyelesaikan persiapan pertunjukan untuk esok
hari, yang berarti hanya menyisakan waktu beberapa jam kedepan. Sementara
panitia penyelenggara saat itu baru sampai pada penataan panggung utama serta pemasangan
tenda bagi para tamu undangan. Peralatan musik, lighting serta perlengakapan audio
pendukung yang dijanjikan datang pagi hari, baru tiba sekitar pukul 12.45 wib.
Keterlambatan mereka cukup beralasan, karena memang jalanan sepanjang menuju
tempat kegiatan mengalami kemacetan. Masih bersyukur mereka dapat beristirahat
sejenak, sementara para crew sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah
memastikan semua peralatan tertata sesuai dengan keinginan panitia, sebagian
dari mereka kembali pergi meninggalkan lokasi. Hanya operator dan beberapa crew
saja yang tinggal untuk malakukan check sound, agar pada saatnya semua bisa berjalan
dengan lancar sesuai keinginan yang diharapkan.
Diana yang bertugas sebagai koordinator
penyelenggara acara kini dapat sedikit bernafas lega, karena dengan demikian ia
hanya tinggal menyisakan 30 persen tugasnya untuk persiapan pelaksanaan
kegiatan. Beberapa pengisi acara sudah memastikan diri akan hadir pada
waktunya. Pimpinan kelompok teater Temperatur yang akan tampil di puncak acara
pun telah menyatakan kesiapannya, dan malam nanti akan melakukan latihan
pementasan dilokasi kegiatan. Sementara perwakilan dari pihak organisasi Palang
Merah Indonesia (PMI) baru akan bertemu dengannya sore hari nanti untuk
mempersiapkan tempat serta segala keperluan kegiatan Donor Darah yang akan
dilaksanakan besok pagi sebelum acara pentas musik dimulai. Baligo, spanduk, serta
atribut lainnya telah terpasang ditempat-tempat tertentu, sesuai perjanjian
kerjasama acara yang telah disepakati kedua belah pihak antara panitia
penyelenggara dengan berbagai pihak sponsor, dengan mengikuti ketentuan aturan
mengenai pelaksanaan kegiatan sesuai ketetapan hukum yang berlaku.
Selepas
Isya Diana beranjak pergi menuju tempat Rental studio musik, dimana pantia melaksanakan
audisi bagi para peserta yang akan mengisi acara dalam kegiatan amalnya. Hanya
beberapa menit saja untuk Diana sampai ditempat tujuan, karena memang letaknya
tak jauh dari lokasi pelaksanaan kegiatan. Setelah menemui panitia yang
ditugaskan untuk menangani hal itu, ia pun bergegas pergi dengan membawa berkas
hasil audisi sebagai bahan untuk menyusun acara pementasannya. Seseorang
menghentikan langkahnya ketika ia sampai di pintu pagar halaman. Tampak jelas
perubahan di raut muka Diana ketika ia mendengar penuturan temannya.
“Kenapa baru memberitahuku sekarang Nie?”.
Tutur Diana dengan ekspresi wajah kecewa bercampur rasa khawatir.
“Aku
benar-benar bingung dan serba salah Na. Sebelumnya aku berniat mengabarimu
lebih awal, tapi aku khawatir akan mengganggu konsentrasimu pada kegiatan kita.
Akhirnya aku mengurungkan niat untuk mengabarimu sore tadi. Ketika kamu datang
kesini pun aku masih tak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus mengabarimu
atau tidak sama sekali. Tapi setelah kupikir-pikir sebaiknya kamu harus tahu
tentang hal ini. Maafin aku ya Na..!. Lenie berusaha sebisa mungkin untuk
menenangkan Diana dengan alasan serta penjelasan mengapa ia tak mengabarinya
lebih awal.
Diana berusaha berpikir untuk menyikapi
situasi yang dihadapinya, dan akhirnya ia memutuskan untuk meminta Lenie
menyampaikan berkas hasil audisi pada anggota panitia penyelenggara acara yang
masih standby di lokasi pelaksanaan kegiatan, sementara ia pergi menuju rumah sakit seperti yang diberitahukan Lenie padanya.
Suara
sirine dari mobil ambulance yang melaju cepat dijalan membuat perasaannya semakin
tidak menentu. Jantung Diana berdetak lebih kencang ketika kendaraan roda dua
yang ditunggangi bersama temannya memasuki halaman rumah sakit. Dengan langkah
cepat ia berjalan menuju ruang UGD setelah meminta Tito untuk menyusulnya
kemudian. Kekhawatiran Diana semakin bertambah ketika mendengar percakapan dua
orang wanita ketika tak sengaja berpapasan
jalan denganya tak jauh dari pintu masuk ruang tindakan. Butiran bening menetes
dari kedua kelopak mata Diana tanpa ia sadari. Benaknya tak kuasa membayangkan seorang
lelaki dipikirannya saat itu, jika tindakan amputasi yang dibicarakan mereka tadi
menimpa pada lelaki yang telah dianggap sebagai kekasihnya. Hampir saja ia menabrak perawat dipintu masuk ruang
tindakan, jika saja perawat itu tak secepatnya menghindar. Diana menghentikan
langkah, lantas cepat berbalik arah, kemudian memanggil sambil berlari mengejar
perawat tersebut ketika tak menemukan yang ia cari didalam ruangan.
“Maaf suster, apakah suster tahu pasien
kecelakaan lalu lintas yang tadi sore dibawa kemari?. Laki-laki hampir
seusiaku, tinggi badannya sama dengan suster, mengenakan jaket jeans, dan
dilengannya memakai gelang”. Tanya Diana
penuh khawatir mengharap jawaban.
“oh maaf, saya tidak tahu. Sebentar saya
tanyakan dulu pada petugas disana. Kebetulan saya bagian tugas jaga malam
sekarang, jadi tidak tahu siapa saja pasien yang datang ke ruang IGD sore tadi”.
Jawab suster memberi penjelasan.
Diana merasa tak sabar ingin segera
mengetahui keberadaannya. Ia pun terus mengikuti kemana langkah suster itu
pergi. Informasi yang di terimanya dari petugas rumah sakit melalui suster
tersebut membuat Diana bisa bernafas lega. Pasien yang dibawa ke IGD sore tadi dengan
ciri-ciri seperti yang disebutkannya itu sudah dibawa pulang oleh pengantarnya.
Meski tak menyebutkan secara rinci mengenai apa saja yang dialami pasien, cukup
kiranya bagi Diana untuk bisa memperkirakan bagaimana kondisinya saat
ini. Ia pun tak berlama-lama untuk tinggal diam. Setelah menyampaikan rasa
terima kasih atas informasinya, ia segera pamit pergi pada suster yang berjaga pada
malam itu.
Suasana
di rumah kost-an Rhaka saat itu tak menampakkan sesuatu yang begitu berbeda
dari biasanya. Lampu kamar menyala terang dengan pintu terbuka lebar, serta lantunan
lagu diiringi petikan gitar memberi kehangatan pada suasana sekitar. Kamar
tetangga sebelahnya pun demikian, hingga memberi sentuhan keakraban diantara
mereka. Rhaka dan ketiga temannya menghentikan aktifitasnya ketika seseorang
secara tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu.
“Hai Na, sini masuk!”. Sapa Rhaka mempersilahkan
Diana untuk masuk, sambil berusaha beranjak dari tempatnya. Wajahnya tampak
meringis menahan rasa sakit di kaki dan didada kirinya.
Dengan isyarat mengangkat kedua tangannya, Diana
meminta Rhaka untuk tak beranjak dari tempat. Secara bersamaan ketiga temannya beranjak
keluar sambil mempersilahkan Diana untuk masuk. Kemudian ia pun bergerak
mendekat setelah melepas kedua sepatunya terlebih dahulu.
“Aku baru tahu dari Lenie, katanya kamu
mendapat kecelakaan dijalan raya sore tadi. Suster jaga di rumah sakit memberitahukanku
jika kamu sudah diantar pulang, jadi aku langsung saja kesini Ka”. Papar Diana
menjelaskan.
“Bagaimana ceritanya sampai mendapat
kecelakaan begitu Ka?”. Lanjut Diana kemudian.
Rhaka menawarkan air putih terlebih dahulu sebelum ia memberikan penuturannya. Awalnya Diana menolak, tapi setelah Rhaka memintanya kembali ia pun menuruti apa yang dimintakannya. Setelah menanti sejenak, Rhaka memaparkan kejadian yang dialaminya mulai dari awal ia pergi sampai sesuatu terjadi menimpanya, sampai ia kembali berada di kostannya.
“Mungkin kami lengah tak memperhatikan
situasi jalanan waktu itu, hingga tiba-tiba mobil pick up menyerempet kami dari
belakang ketika ia berusaha menyalip sebuah mobil sedan dari arah kiri jalan. Miko
panik, lantas berusaha menghindari tabrakan dengan mobil yang melaju didepan
kami berdua. Ia membanting arah kesamping kiri, hingga ban depan menabrak trotoar
jalan, kemudian Miko reflex menginjak rem belakang berusaha menghentikan laju
kendaraan. Tapi tebaran pasir dan batu kerikil dipinggiran jalan raya membuat kami
tak bisa menjaga keseimbangan. Kendaraan yang kami tumpangi pun oleng dan
kembali menabrak trotoar, hingga akhirnya aku terbanting ke trotoar
jalan. Masih beruntung motor yang kami tumpangi tak menabrak kendaraan lain, atau
pejalan kaki di pinggiran jalan raya, sementara Miko terhempas ke depan dan
sempat bergulingan dipinggiran jalan. Bagian kepalaku membentur gerobak penjual
makanan di emperan trotoar jalan hingga aku tak sadarkan diri. Ketika tersadar kembali,
tiba-tiba aku sudah berada disalahsatu ruangan. Baru lama kemudian aku tahu,
jika aku sedang berada di rumah sakit. Setelah dokter jaga memastikan tak ada
yang perlu dikhawatirkan dengan kondisiku dan juga keadaan Miko saat itu, ia pun
mengizinkan teman-teman membawaku pulang kesini. Lalu...., yaa seperti yang kamu
lihat sekarang inilah kondisiku saat ini. Dan Miko beruntung hanya mengalami
lecet dipergelangan tangan serta lutut kakinya. Tak ada luka lain yang berarti
baginya. Itu..., kamu bisa lihat sendiri keadaan dia sekarang bagaimana”.
Diana menyimak penuturan Rhaka dengan wajah
serius, sambil sesekali menahan nafas dan meringis ngeri ketika Rhaka mengulas
saat-saat terjadinya kecelakaan.
“Apa kamu yakin kondisimu baik-baik saja
Ka?. Menurutmu..., apa tidak sebaiknya kita memeriksakan kembali kedokter,
yaa.. untuk lebih memastikan saja bahwa kondisimu saat ini baik-baik saja Ka?!”.
Diana coba menyampaikan kekhawatirannya.
“Aku percaya pada dokter yang menanganiku
Na. Tidak mungkin kan ia mengizinkan teman-teman membawaku pulang, jika tidak
yakin dengan hasil pemeriksaannya. Aku juga percaya dokter yang menanganiku
sore tadi bisa mempertanggungjawabkan keputusannya”. Rhaka berupaya meyakinkan
Diana dengan penuturannya.
“Sekarang bagaimana, apa masih ada terasa
sakit dibagian kepalamu atau tidak Ka?. Atau mungkin masih ada rasa sakit dibagian
lainnya yang kini kamu rasakan”. Lanjut Diana kemudian, seakan belum percaya
sepenuhnya dengan apa yang disampaikan Rhaka padanya.
“Dibagian kepalaku tak terasa sakit apapun.
Hanya didada kiriku yang kini masih agak sedikit terasa sakit. Mungkin karena
benturan di trotoar waktu itu. Kaki dan tanganku pun hanya meninggalkan bekas luka
goresan. Yaa.. meski masih terasa perih dibagian lukanya, aku pastikan jika aku
baik-baik saja Na. Sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan, nanti juga
pulih kembali meski berbekas luka ditempatnya”. Sambung Rhaka meyakinkan Diana
agar ia tak perlu mengkhawatirkan keadaannya.
“Syukurlah kalau memang begitu adanya. Aku
berharap kau bisa segera kembali beraktifitas seperti biasanya”.
Diana berusaha meyakinkan dirinya sendiri,
dan terus berharap tak terjadi sesuatu padanya.
“Oh iya Na, bagaimana dengan persiapan
kegiatanmu, apa semua berjalan lancar seperti yang kalian rencanakan?. Jika tak
ada perubahan, kami pastikan bahwa kami bisa mengisi acara dikegiatan kalian
besok sore. Bisa ya kawan-kawan?”. Lanjut Rhaka mengalihkan pembicaraan.
"Bisa dong Ka!". Jawab teman-teman semangat.
“Aku sich terserah kamu saja. Kalau memang
kamu merasa nyaman untuk pentas nanti, kita oke oke saja. Iya nggak blur?”. Ucap
Miko memastikan kesanggupan mereka, dan disambut dengan penegasan Widhy juga Julian.
“Sebaiknya jangan terlalu memaksakan, jika
kondisimu tak memungkinkan untuk pentas nanti Ka!”. Diana berusaha mengingatkan
Rhaka, namun ia tetap pada pendiriannya. Rhaka terus meyakinkan Diana bahwa
dia sanggup untuk mengisi acaranya. Diana pun tak bisa berbuat apa-apa atas
keputusan yang dipilih Rhaka. Ia pun pamit pergi setelah Rhaka mengingatkan
akan tugas kepanitiaan yang masih menantinya untuk dituntaskan. Rhaka kembali
meminta agar Diana menyimpan kekhawatiran terhadapnya, guna berkonsentrasi
penuh pada tugas dan tanggungjawab yang diembannya sebelum Diana berlalu dari
hadapannya. Diana mengangguk dengan menyelipkan seikat senyum dibibirnya.
“Kenapa temanmu tadi tak diajak masuk Na?.
Aku kira kamu datang sendirian”. Tutur Rhaka dengan suara dikencangkan saat melihat
temannya tengah bersiap menyalakan sepeda motornya.
“Nggak
apa-apa kok...”. Ucap teman Diana dengan sikapnya yang tampak sungkan.
“Aku lupa tadi tak mengajaknya ke dalam.
Nggak apa-apa kan Ka aku diantar pergi temanku?”. Diana menimpali perkataan
Rhaka sambil menatapnya.
Rhaka mengerti arti tatapan disorot matanya. Ia pun tersenyum sembari menepuk lengan Diana.
“Ngomong apaan sich Na, pake nanya gitu
segala!”. Ujar Rhaka menepis prasangka Diana dengan candanya.
Diana pun beranjak pergi setelah mengucap
kata pamit pada mereka. Ketika kendaraan roda dua mulai melaju perlahan, Diana melambaikan
tangannya. Rhaka membalas lambaian tangan dengan
senyum hangat.
“Hati-hati dijalan. Sukses ya untuk acaranya!”.
Ucap Rhaka pada mereka.
Roda pun terus berputar, bergerak menjauh
hingga tak terdengar lagi bunyi mesin dan suara knalpot ditelinga mereka. Rhaka
mengajak kawan-kawannya masuk untuk melanjutkan briefing yang tadi sempat tertunda.
Ia tak ingin mengecewakan panitia
penyelenggara kegiatan, dan terutama Diana yang memintanya untuk tampil mengisi
acara dikegiatan Himpunannya nanti. Bredasar pada hal itu, ia rasa perlu mematangkan kembali
persiapan untuk bandnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hanya pengguna terdaftar yang dapat memberikan komentar pada blog ini.