Karya : Ipey
Hujan
deras yang datang menyapa senja kala itu mengharuskannya mencari tempat
berteduh. Para pengendara roda dua menepikan kendaraan untuk memakaikan jas
hujan sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Rhaka menyelinap diantara
orang-orang yang berjejer sepanjang
gerbang toko, meminta berbagi tempat untuk berteduh. Tak lama kemudian air
hujan menggenangi jalan raya, hingga ketika kendaraan melintas cepat memberikan
percikan air pada mereka yang tengah berteduh disana. Teriakan protes serta
caci maki memberi suasana gaduh sesaat, kemudian mereka terdiam kembali. Pepohonan
disepanjang pinggiran jalan meliuk-liuk diterpa angin kencang disertai petir
bersahutan. Curah hujan pun semakin deras, menghanyutkan segala benda hingga
menjauhkannya dari tempat semula. Rhaka memeluk tubuhnya sendiri untuk mengusir
rasa dingin dari hembusan angin yang tak henti bertiup. Kendaraan roda dua
hampir tak terlihat melintas dijalan raya, begitupun para pengais rezeki
dilampu merah kini tak nampak lagi dari pandangan mata. Mungkin mereka semua
menepi mencari tempat berlindung dari derasnya curah hujan dan angin kencang
serta petir yang menyambar bersahutan seakan tiada henti. Lampu-lampu
penerangan jalan ditahan situasi dan kondisi untuk menghindari hal-hal yang
tidak diinginkan. Para pemilik toko pun terpaksa menyalakan lilin atau lampu
cadangan yang mereka miliki guna menerangi tempat usahanya. Tak sedikit dari
mereka memutuskan untuk menutup toko lebih awal dari biasanya, dengan alasan
demi keamanan. Tak terdengar gema adzan maghrib, meski waktu untuk itu sudah
tiba. Dan seiring waktu berjalan, perlahan hujan pun mulai reda. Namun petir
masih menyimpan rindu pada suasana hingga ia enggan untuk segera pergi
menelusuri tempat lainnya. Setelah memaksakan berjalan menembus rintik hujan,
Rhaka tergesa menaiki bus Damri untuk kemudian mengambil jok panjang dibelakang.
Saat
lampu-lampu mulai menyala, langkah kakinya baru tiba dimulut gang. Bocah-bocah
kecil bersorak gembira menyambut cahaya terang di sekeliling rumah mereka. Para
orang tua mengucap syukur karena tak perlu lagi menyalakan lentera atau lilin-lilin
yang telah meleleh hingga ujung terakhir. Rhaka menghentikan langkah sejenak ketika
samar-samar melihat seseorang didepan pintu kamarnya. Tak jelas siapa yang sedang
berdiri disana, karena penerangan lampu dari kamar sebelah tak cukup bagi Rhaka
untuk mengenalinya. Baru ketika bergerak mendekat ia mulai bisa mengira-ngira siapa
sosok seseorang yang berdiri di depan pintu kamar.
"Ren, kamukah itu?". Tanya Rhaka sambil terus melangkah mendekatinya.
Seseorang didepan pintu spontan menoleh kearah datangnya suara.
“Iya,
ini aku Ka”. Sahutnya memberi jawaban.
Sambil berucap tanya Rhaka mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya, kemudian ia membukakan pintu.
Setelah menyalakan lampu kamar dan lampu
luar ia melepas jaket, lalu mengaitkannya dibalik pintu.
“Aku kekamar mandi dulu Ren. Jika mau menyeduh
kopi atau teh, sekalian ya seduhkan juga buat aku. Sekali-kali berbuat amal
sama temen, oke?!”. Ucap Rhaka sambil mengibaskan handuk ke tubuh kawannya.
“Sudah
buruan mandi sana!”. Rendy menyahut singkat, kemudian ia mengambil dua buah gelas guna
membuat seduhan hangat untuk mereka. Rhaka bergegas pergi tanpa pamit lagi. Sementara
itu dua gelas seduhan kopi yang diracik dengan komposisi sesuai seleranya masing-masing
ia simpan dilantai, kemudian ia melangkah keluar.
“Ka... aku pergi kewarung dulu sebentar”. Ucap
Rendy setengah berteriak ketika ia berjalan melewati kamar mandi.
“Ngapain Ren?”. Sahut Rhaka balik bertanya.
“Beli sesuatulah Ka, masa mau main bola!”. Rendy
pun menimpali dengan canda sekenanya sambil berlalu dari sana.
Larut
malam berselimut kabut menyisakan tanya dipikiran mereka. Senyap sejenak tanpa
satu kata terucap. Detak jarum jam berjalan konstan bagai tempo metronom yang
menuntun para pelantun nada agar tak menyimpang dari ketukannya. Rhaka meletakkan
gitar disudut kamar, kemudian merebahkan diri untuk menepis rasa pegal dibagian
tubuhnya.
“Ya sudahlah Ren, kalau memang itu telah
menjadi keputusannya. Aku tak bisa berbuat banyak untuk itu. Dan aku pun tak
ingin terlalu jauh bersikap, apalagi mencampuri urusan mereka. Dari awal sudah
aku katakan, ini tak akan mudah untuk kita. Aku hanya bisa mengingatkan,
sebaiknya tak melibatkan diri dalam pertaruhannya. Ini bukan persoalan kecil bagiku
Ren. Mari kita bersikap bijak terhadap kawan-kawan yang tak tahu persoalan
sebenarnya. Aku tak mau memanfaatkan situasi dengan mengorbankan kawan-kawan,
sementara kita sendiri menyadari bahwa kita hanya menjadi alat kepentingan
mereka. Seandainya berhasil pun tak tahu selanjutnya mereka bagaimana terhadap
kita. Ini bukan kali pertama Ren?. Bayangkan jika kemudian tahu kita
memanfaatkan mereka. Apa yang akan terjadi nanti Ren?. Mungkin lain bagimu,
karena secara pribadi kau punya kepentingan sendiri dengan mereka. Aku berani
mengatakan ini karena aku tahu dimana keberpihakanmu. Kau hanya berpihak semata
pada kepentinganmu sendiri, karena aku tahu itu ambisi masa depanmu. Bukan
sekali ini aku mohon padamu, dan kini aku kembali memohon mungkin untuk yang
terakhir kali. Tolong jangan melibatkan kawan-kawan, demi kebaikan kita bersama”.
Rhaka coba menuturkan apa yang bersarang dibenaknya saat itu.
Rendy menarik nafas panjang, lalu berfikir
sejenak untuk kemudian menyampaikan apa yang mengganjal dipikirannya.
“Keberhasilan mereka sangat penting bagiku
Ka. Ada harapan baik didepan sana menanti. Dan aku tak ingin melewatkan
kesempatan ini begitu saja. Akupun tak akan memaksamu untuk terlibat
didalamnya. Dan aku mohon, tolong simpan baik-baik pembicaraan ini. Aku, Yori,
Arok dan juga Yanuar mungkin akan terus melanjutkan apa yang telah aku mulai
dari awal. Tapi akupun akan menerima saranmu, agar tak melibatkan kawan-kawan
lain dalam hal ini. Aku akan coba membicarakannya kembali dengan Yori dan
lainnya. Aku berjanji sebisa mungkin tak akan melibatkan kawan-kawan mahasiswa
kampus kita”. Rendy mengakhiri penuturannya dengan meyakinkan Rhaka, bahwa dia
akan menerima sarannya untuk kebaikan bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hanya pengguna terdaftar yang dapat memberikan komentar pada blog ini.