Karya
: Ipey
Nada-nada mengalun perlahan diiringi petikan senar-senar gitar dikeheningan malam bertaburkan kerlip bintang dan senyum sang rembulan. Semilir angin berhembus membawa kabar suka dan duka para pewaris tahta negeri khatulistiwa di belahan dunia. Penunjuk waktu berkeliling tanpa henti mengitari haluannya. Tak bosan-bosan mengemudi para pengejar mimpi, menjadi saksi bisu perjalanan ke tujuannya masing-masing. Mereka yang resah menanti hari esok, setia menemani nyanyian malam dengan keresahannya. Sementara para pengabdi Tuhan terhanyut dan larut dalam permohonan, bersimbah air mata di sela-sela kekhusuannya. Dan sampai gerimis datang menyapa lamunan, Yori masih diam terpaku bersandar ke dinding kamar, menikmati asap rokok sambil sesekali meneguk seduhan kopi. Pintu kamar perlahan terbuka setelah Yori menyahuti suara panggilan dari luar. Rhaka mengaitkan jaket di balik pintu setelah menempatkan bungkus makanan di lantai, kemudian meminta Aray membuat seduhan kopi untuk mereka.
“Dia
nggak ada di tempat Yor. Aku sudah coba cari berkeliling dan menanyakan pada
penjaga keamanan kampus, tapi tak satupun yang tahu dimana ia berada. Mungkin
dia pulang ke kostannya”.
Aray
coba menyampaikan hasil pencariannya dengan ekspresi wajah menyiratkan kekecewaan.
Rhaka mengambil gelas seduhan kopi yang baru saja dibuatkan Aray untuk mereka.
“Berikan
dia waktu untuk menenangkan diri. Mungkin ia membutuhkan itu saat ini. Jangan terlalu memaksakan, karena aku
khawatir akan berdampak kurang baik bagi kita. Masih ada waktu untuk kita menyusun
kembali rencana kedepan”.
Papar Rhaka beruasa menenangkan suasana.
Seminggu sudah sejak peristiwa hari
itu, Rendy tak menampakkan dirinya di kampus. Apakah sebenarnya ia masih
menyimpan kekecewaannya terhadap Rhaka, atau memang ada hal lain. Yori terus coba
mencari tahu, alasan apakah sebenarnya yang membuat Rendy bersikap seperti itu.
Hingga sampai malam ini ia masih menduga-duga tanpa tahu kepastiannya.
“Andai
saja ia mau terbuka mengenai persoalan yang sedang dihadapinya, mungkin saat
ini ia berada diantara kita”. Ucap Yori menyiratkan penyesalan.
Rhaka
dan juga Aray hanya bisa diam mendengar penyesalan sahabatnya. Selang beberapa saat kemudian mereka saling
pandang satu sama lain, ketika mendengar suara dari balik pintu menyapa
kesunyian.
“Itu
dia datang”. Sahut Aray spontan mendengar suara panggilan dari luar yang tak
asing ditelinganya. Aray membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk.
“Aku
pikir kalian ada dikampus, jadi sepulang menemui teman aku menuju kesana. Kebetulan
aku bertemu Roni, dan ia memberitahuku jika kalian ada disini”. Jelas Rendy
tanpa basa basi.
Yori,
Rhaka dan Aray tampak menarik nafas lega atas kedatangan sahabat yang memang
dinantinya. Tak lama berselang Rendy memaparkan beberapa hal mengenai hasil
pertemuannya dengan beberapa teman beberapa waktu lalu.
“Mereka
masih sangat berharap kita bisa menjadi jembatan bagi terwujudnya keinginan mereka.
Tapi aku tidak menjanjikan apa-apa padanya”. Lanjut Rendy menambahkan
penuturannya. Kemudian ia sampaikan kemungkinan mereka akan kalah dalam
pelelangan tender proyek pembangunan kota seperti yang mereka jelaskan padanya.
“Mungkin
mereka pesimis dapat melalui tahapan pelelangan, karena ada kekuatan lain mengitari
prosesnya, hingga meminta kita untuk terlibat didalam kepentingannya”. Ungkap Rendy,
serius menuturkannya.
Rhaka
beranjak dari tempat, tanpa pamit pergi ke kamar kecil. Yori menatap
langit-langit kamar sambil menarik nafas panjang. Sementara Aray bergeser duduk
kebelakang. Rendy diam sejenak sambil memegangi kepalanya, dan suasana pun
kembali senyap. Hanya rintik hujan terdengar nyata dikeheningan malam yang
semakin larut.
Yori
menunggu beberapa saat untuk menuturkan apa yang saat ini bermuara
dipikirannya. Baru kemudian ia membuka suara, ketika Rhaka kembali diantara
mereka.
“Bukan
aku tak ingin menuntaskan apa yang telah kita mulai dari awal, tapi setelah aku
berpikir ulang, ada baiknya kita mempertimbangkan apa yang dikatakan Rhaka
padaku. Sebaiknya kita tak perlu memaksakan diri. Seperti kata Rhaka, kita tak
ingin terlibat lebih jauh dalam persoalan ini, mengingat ini sudah jauh
bergeser dari tujuan kebersamaan kita Ren”. Yori berusaha memberi pengertian. Rhaka
mengangguk perlahan, menyikapi penuturan Yori. Ia membenarkan apa yang
disampaikan Yori pada sahabatnya.
“Ini
sudah jauh menyimpang dari tujuan kebersamaan kita Ren. lebih baik aku tak
melibatkan diri jika sejak awal tahu kenyataan yang sebenarnya seperti ini. Sekarang,
ini menjadi kepentinganmu sendiri Ren, bukan kepentinganku atau kita. Dan kau
harus menyelesaikan sendiri apa yang telah kau mulai”. Rhaka menyampaikan
penegasannya setenang mungkin, berharap Rendy bisa mengerti akan keputusan yang
dipilihnya.
Pagi
yang cerah memancarkan sinar mentari, memberikan kehangatan pada kehidupan
untuk memulai berrbagai aktifitas. Tak terkecuali pada mereka yang semalam
menghabiskan waktu berdiskusi, saling mempertahankan pendapat dan
argumentasinya. Mereka memulai hari dengan berebut waktu untuk mempergunakan
kamar mandi lebih dulu. Perdebatan semalam ternyata masih menyisakan
kebersamaan menjalani hari dengan senyuman dan canda tawa. Soal perbedaan
sebisa mungkin mereka kesampingkan demi menjaga keutuhan persahabatan, dan
ketika sampai dipersimpangan jalan, arah serta tujuan melangkah menjadi
keputusan paripurna bagi mereka. Sepakat untuk tidak bersepakat dalam suatu
persoalan, bukan suatu keniscayaan bagi mereka tetap menikmati kebersamaan.
Dinamika hidup dan kehidupan sudah semestinya disikapi secara dewasa, hingga
tak menimbulkan kekecewaan yang tak berkesudahan, apalagi menyimpan dendam. Dan
pagi itu Rhaka memutuskan untuk pergi ke kampus guna mengejar ketertinggalan
dari teman-temannya yang hampir sampai di penghujung tujuannya. Hanya berbekal
tekad bulat ia mendatangi ruang perpustakaan. Setelah memastikan kebutuhannya
berada digenggaman tangan, ia menemui petugas perpustakaan untuk mencatatkan
buku pinjamannya. Setelah selesai Rhaka bergegas pergi menuju parkiran, dimana
seseorang telah menjanjikan menemuinya disana pagi ini. Ketika ia meluaskan
pencarian, seseorang dengan senyum hangat melambaikan tangan ke arahnya. Rhaka
mengayun langkah menghampiri seseorang yang tengah berdiri tak jauh dari taman.
“Maaf
jika aku sudah membuatmu menunggu. Aku harus ke perpustakaan dulu untuk
melengkapi kebutuhan mata kuliah yang aku ambil semester ini”. Sapanya memberi
penjelasan.
Diana menggelengkan kepalanya perlahan.
“Tak
apa-apa Ka. Aku juga baru sampai kok”. Ucap Diana meyakinkan Rhaka.
"Bagaimana Ka, jadi kita pergi?". Lanjut Diana mencari tahu akan rencana mereka. Rhaka mengangguk perlahan, memberi sinyal bahwa mereka bisa segera pergi.
Sambil menunggu pesanannya datang,
Diana mengisi waktu dengan membuka obrolan ringan seputar kegiatannya di kampus
beberapa hari lalu. Sesekali Rhaka menimpali dengan menyelipkan canda dan kata gurauan
untuk mengimbangi percakapannya. Bukan untuk kali ini saja Rhaka memberikan sedikit
demi sedikit perhatiannya pada Diana yang telah ia kenal beberapa bulan
kebelakang. Dan bukan sekali ini saja ia coba mengerti dan memahami setiap
maksud perkataan Diana yang ia sampaikan padanya. Seiring waktu berjalan, keakraban
pun mulai terasa diantara mereka berdua. Sulit dimengerti mengapa dihatinya
mulai timbul perasaan lain yang tumbuh begitu saja, tanpa mampu ia hindari.
Perlahan namun pasti rasa itu merasuk dijiwanya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa
cinta bisa hadir tanpa disadari. Sejenak menyimpan waktu kebersamaan dengan
seseorang di masa lalu, meski ruang dihati masih terpaut dengan kisahnya. Namun
kemudian ia berusaha menyikapi kenyataan dengan menjalani kisah apa adanya. Biarkan
waktu yang menjawab semuanya. Mungkin itu kalimat yang tepat baginya saat ini.
Rhaka
tak mau terjebak menjalani hari dalam lingkaran kenangan masa lalu, hingga
menutup ruang hati bagi siapapun yang datang mengetuknya. Tak bijak rasanya jika
ia harus memasung diri sendiri, sementara cinta yang lain datang menanti uluran
hati. Diana telah merelakan diri berbagi waktu dan perasaan dengannya, dan
sepertinya ia percaya menjadikan dirinya tempat berkeluh kesah untuknya. Sikap
yang ditunjukkan Diana disaat ia mendapati Rhaka tengah berbincang dengan teman
sekelasnya cukup memberi arti tersendiri baginya. Sudah semestinya Rhaka mengerti
dan memahami arti kebersamaan mereka saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hanya pengguna terdaftar yang dapat memberikan komentar pada blog ini.