Karya : Ipey
Malam ini bulan tak menampakkan senyum
manisnya seperti biasa, begitupun bintang-bintang. Ia tak memperlihatkan
kerlipnya yang bersahaja. Deras curah hujan memaksa mereka bersembunyi dibalik
awan hitam, yang geram menyaksikan rekayasa terhadap kebenaran. Kebenaran semu atas
hasil upaya pembenaran terhadap kesalahan yang nyata-nyata tampak didepan mata.
Atau mungkin awan hitam sengaja menghalangi pandangan bintang-bintang diangkasa
serta bulan yang biasanya merona merah menyaksikan panggung kehidupan
dihamparan alam terbuka. Angin pun bertiup kencang seakan berteriak pada para
penegak keadilan, memohon agar kebenaran tak diperjual belikan seperti barang
dagangan. Dan kini binatang malam semakin jelas mengumandangkan lagu kematian,
mengiringi jerit kesakitan para penuntut balas atas kesewenang-wenangan yang
bertebaran hingga ke penjuru samudera. Para jelata merangkak dengan tangisan darah
dan luka disekujur tubuhnya, hingga nurani pun terkoyak batinnya,
tercabik-cabik tajamnya mahkota berhias derita disekelilingnya. Tetesan air
dari ujung genting membawa khabar bahwa samudera tengah merasa gundah. Dan
kegundahannya menebarkan gelombang ke segala arah, menyapu segala benda yang
dilintasinya hingga terdampar dipesisir pantai. Apakah ini pertanda semesta
akan murka?. Hanya nantilah yang akan membuktikan kebenaran sesungguhnya.
Dari
balik kaca jendela mereka menatap kilatan petir diantara awan hitam yang bergulung
bagai gelombang ombak lautan. Bulu kuduk pun berdiri menyaksikan skenario alam
semesta maha karya penguasa jagat raya. Siapa yang tak menciut kegagahan dan
keberaniannya ketika menyadari betapa kerdilnya kita. Namun masih saja segala
pertanda tak membuat jera untuk mengulang kesalahan yang sama. Bahkan
seringkali pengkerdilan terhadap sesama membuat kesombongan semakin merajalela,
hingga mengabaikan siklus kehidupan, seakan roda dunia tak berputar mengitari
perjalanannya. Rhaka pun tersungkur dihamparan selembar tikar berukir kubah
dengan seuntai harap dan pinta. Pekat malam menjadi saksi kesedihan dan rasa perih
yang menghimpit jalan nafasnya. Diantara curahan hatinya ia memohon agar Tuhan
jangan terlalu menyanyanginya, karena tak kan sanggup membalas meski Ia tak mengharap
balas. Rhaka hanya bermohon agar Tuhan tak berpaling darinya, agar cahaya
petunjuk-Nya senantiasa menerangi setiap langkah dan hembusan nafasnya.
Kemudian setelah merapikan tikar dilantai, ia mengambil sebuah buku catatan dari
bawah tumpukan pakaian. Tangannya mulai menuntun pena menggoreskan tinta,
merangkai untaian kata hingga menjadi susunan kalimat bermakna. Gema adzan
subuh yang berkumandang memberi isyarat bahwa, ia harus menghentikan aktifitas
dan bergegas memenuhi kewajibannya.
Bunyi
pintu diketuk, serta panggilan seseorang dari luar kamar memaksanya terbangun.
Setelah tahu siapa yang berada diluar sana, Rhaka memintanya untuk menunggu
sejenak. Miko langsung menerobos masuk sambil menenteng gitar ditangannya,
setelah pintu dibukakan dari dalam. Tak lama berselang Yori dan Rendy pun datang,
menambah hangat suasana. Karena rasa kantuk masih menggelayut dikelopak mata,
Rhaka kembali membaringkan tubuhnya. Namun canda Yori memaksa ia mengurungkan
niat untuk terlelap kembali.
“Aku bawakan kopi nich Ka, biar melek!”.
Ucap Yori sambil menyodorkan gelas
bersisi seduhan kopi, yang sengaja ia bawa untuk mereka.
Rhaka bergeser dari tempatnya, lantas duduk
bersila sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar.
“Aku masih ngantuk banget bray. Semalaman
aku nggak tidur, jadi bisa nggak kalian beri aku waktu untuk berbaring barang
sekejap saja. Kenapa juga sepagi ini kalian sudah pada datang kesini”. Tuturnya
dengan mata setengah terpejam, sambil menguap menahan rasa kantuk.
Yori beranjak dari tempatnya, lalu membuka
pintu lebar-lebar.
“Coba lihat keluar Ka!. Matahari sudah
hampir berada tepat diatas kepala, kamu bilang masih pagi?!”. Ucap Yori
berusaha menunjukkan suasana saat itu.
Mau tidak mau Rhaka pun berusaha membuka
matanya, lalu meraih seduhan kopi, kemudian meneguknya hingga tinggal
menyisakan setengahnya. Beberapa saat kemudian ia menyeret kakinya melangkah
menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Sementara itu sambil menunggu, Yori,
Rendy dan juga Miko mengisi waktunya dengan menikmati seduhan kopi serta menyantap
makanan ringan. Tiga bulan setelah penyelenggaraan kegiatan amal yang
diselenggarakan salahsatu Himpunan Mahasiswa dikampusnya, baru kali ini Yori
dan Rendy kembali mendatangi tempat kostnya. Hanya Miko, Widhy dan Julian yang
sering kumpul bareng disana untuk sekedar mengompakkan group bandnya.
Yori
kembali membuatkan seduhan kopi sebagai pelengkap obrolan mereka yang belum
tuntas. Miko meminta agar Yori tak perlu membuat seduhan kopi untuknya, karena
ia harus segera pergi ke kampus guna mengikuti perkuliahannya siang itu.
Setelah menerima titipan buku yang Rhaka minta untuk dikembalikan pada temannya
dikampus, Miko pun pamit pergi. Yori membuka kembali pembicaraan untuk mereka
bahas, dengan harapan dapat menemukan sesuatu dari hasil pembahasannya. Tanpa
ragu Yori dan Rendy saling bergantian memaparkan perjalanan dari pergerakan
mereka beberapa waktu lalu. Silang pendapat diantara mereka membuat suasana
semakin berwarna. Saat itu pula Rendy menyempatkan diri menyampaikan terima
kasihnya atas segala saran dan pendapat yang telah Rhaka berikan. Meski ia tak
terlibat secara langsung dalam upayanya mendapatkan sesuatu yang ia rencanakan,
namun perannya cukup memberi arti tersendiri bagi keberhasilan pergerakannya. Seperti
biasa Rhaka hanya tersenyum menyikapi penuturan Rendy yang tampak serius
mengisahkan perjalanannya. Yori berusaha mengulas dan mengingatkan kembali tentang
diskusi mereka di kediaman Yanuar beberapa waktu lalu. Maraknya pemberitaan media mengenai kasus hukum
dengan berbagai intrik dalam proses peradilannya, mendorong Yori untuk menelaah
lebih jauh keberadaan mafia hukum yang semakin bergentayangan mengitarinya.
Penyalahgunaan wewenang para pejabat publik, penyelewengan terhadap penggunaan
anggaran negara, serta sikap apatis para pemangku kepentingan terhadap situasi
dan kondisi sosial masyarakat yang menjadi trending topic dikalangan mahasiswa
pun tak luput dari ulasannya. Sementara itu Rhaka hanya bisa diam, mencoba dan
berusaha mengerti maksud dari penyampaian Yori pada mereka. Masih banyak hal
yang perlu ia mengerti dan fahami tentang pola pikir sahabatnya yang satu ini.
Yori tahu kalau Rhaka bukan mahasiswa fakultas hukum, dan yang tak habis pikir
mengapa ia selalu beranggapan seolah Rhaka tahu dan mengerti persoalan yang
dihadapkannya.
“Kamu kan tahu Yor. Bahkan kamu sendiri
pernah mengatakan bahwa persoalan hukum bukanlah bidang dan keahlianku.
Jangankan persoalan hukum yang bukan bidangku, persoalan yang menyangkut dengan
studiku pun belum tentu aku bisa memahami sepenuhnya. Jadi, apa nggak salah
kamu mengajak aku berdiskusi tentang persoalan ini braayy?”. Tutur Rhaka coba
mengingatkan Yori.
Namun demikian Yori seakan tak
memperdulikan alasan yang disampaikan Rhaka padanya, dengan berbagai dalih ia tetap
meminta untuk berbagi ilmu dan wawasan apa saja yang dimilikinya. Sementara itu
Rendy hanya diam dan manggut-manggut saja mendengar penuturan Yori, tanpa
mengucap sepatah katapun.
Rhaka benar-benar dibuat
bingung karenanya, hingga spontanitas pikirannya mengutarakan apa saja yang
saat itu bermuara dibenaknya. Ia katakan bahwa persoalan yang disampaikan Yori berhubungan
dengan hukum negara, bukan hukum agama. Karena bagi mereka hukum agama
merupakan hal pribadi antara mereka dengan tuhannya. Rhaka hanya menyampaikan sebab akibatnya saja
dari setiap perbuatan melawan hukum yang Yori paparkan padanya. Ia hanya dapat
berbagi ilmu tentang sifat dasar manusia yang ia ketahui, dengan berbagai
persoalan yang melingkupi, dan itupun belum tentu benar apa yang disampaikannya.
Rhaka coba mengatakan bahwa keinginan
setiap makhluk sosial untuk mendapatkan sesuatu seoptimal mungkin adalah sifat
manusiawi, yang banyak dicontohkan jauh sebelum hukum dinegara ini ada.
Persoalannya hanya pada bagaimana cara meraihnya, bagaimana proses yang
dijalaninya. Terkadang sebagian mereka mempercayai bahwa tindakan yang
dilakukan dibenarkan oleh faham yang diyakininya. Dan ketika telah mendapatkan
apa yang diharapkan, kemudian berpikir dan berupaya untuk mempertahankan atau
meningkatkan segala apa yang telah didapatkan. Menurutnya itu pun suatu hal
yang wajar dan manusiawi. Dalam perhelatannya terdapat gejolak dengan berbagai
resiko mengiringi. Kemudian menurutnya, hal sederhana yang memepengaruhi
seseorang melakukan tindakan atau perbuatan melawan hukum tidak lain karena
rasa takut yang berlebihan. Para pejabat takut akan kehilangan jabatannya, para
konglomerat takut jatuh terpuruk karena kalah dalam persaingan bisnisnya, dan
lain sebagainya. Rasa takut akan kejatuhan atau keterpurukannya membuat mereka
berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk mengalahkan rasa takut lainnya, sehingga
timbul keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan yang sebenarnya mutlak
menjadi hal yang harus ditakuti semua pihak. Dunia telah memberi kita pilhan
untuk menjalani dan atau bertahan hidup dengan caranya masing-masing, tentu
dengan segala konsekuensi dihadapannya kemudian.
“Aku tak ingin mengatakan ini krisis hukum
dinegara kita. Bukan kapasitasku untuk memberi penilaian seperti itu. Aku hanya
ingin mengatakan bahwa, ada sesuatu hal yang terkesampingkan dalam pengejawantahan
nilai-nilai luhur dasar negara. Aku mengatakan demikian karena kita berada
diwilayah hukum negara yang berdasar pada Pancasila dan menjunjung tinggi
Undang-Undang Dasar 1945, bukan pada aturan hukum agama. Meski hukum negara
kita banyak mengadopsi dari negara lain, bahkan dari negara yang lama sekali
menjajah negara kita. Akan menjadi persoalan lain jika negara ini berdasar pada
hukum agama. Dan jika keadilan yang menjadi persoalan dinegara ini, aku tak
akan membenarkan apabila ada pihak-pihak tertentu mempelesetkan sila kelima
menjadi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Pejabat Negara Indonesia. Karena aku yakin
para Pancasilais akan marah menyikapinya. Sejarah panjang telah mengajarkan
kita semua untuk tidak mengulang kembali pergolakan yang ditimbulkan ketika sila
pertama Pancasila dirubah beberapa waktu setelah bangsa ini menyatakan
kemerdekaannya kepada dunia. Aku hanya ingin menyikapi persoalan seperti yang
kau sampaikan padaku secara sederhana saja. Menurutku degradasi moral yang
terjadi saat ini dan terus berlanjut perlu disikapi dengan bijak dan sangat
hati-hati. Terlalu banyak kepentingan bangsa luar dinegara ini. Aku tak dapat
membayangkan seandainya satu generasi saja dibumi hanguskan dari negara ini,
apa yang akan terjadi nanti. Dan bukan hal yang tak mungkin sekarang tengah
terjadi, hanya saja kita tak menyadari”. Papar Rhaka berharap penuturannya
dapat memberi sesuatu yang Yori maupun Rendy harapkan darinya.
Suasana hening sejenak. Tak satupun dari
mereka berucap kata. Rhaka mengambil seduhan kopi yang masih tersisa, kemudian diikuti
Yori dan Rendy. Setelah menunggu beberapa saat ia pamit keluar sebentar, karena
dari tadi ia menahan diri untuk pergi ke kamar kecil.
Meski
apa yang disampaikan Rhaka padanya tidak menyentuh pada bagaimana cara mencari
atau menemukan mafia hukum seperti keinginannya, namun cukup baginya hal itu membuat
ia dapat menambah perbendaharaan wawasannya. Sebenarnya Yori berharap Rhaka mau
berbagi tentang hal-hal lain, seperti misalnya mengapa kejahatan yang dilakukan
secara sistemik dan terorganisir sangat sulit diberantas dan lenyap dari bumi
pertiwi ini. Lebih jauh lagi ia ingin berbagi pendapat mengenai tingkah laku para
politisi yang terkadang sulit dimengerti dan difahami arah tujuan yang
sebenarnya mereka tuju. Dalam setiap pemaparan formalnya semua politisi berdalih
demi kesejahteraan rakyat, begitupun halnya para birokrat dinegeri ini, para
pengusaha kelas kakap, hingga para konglomerat. Semua berlomba-lomba bicara atas
nama kepentingan rakyat, demi kepentingan negara. Meski terkadang merasa geli
ketika sesama mereka saling mendebat pernyataan satu dengan lainnya.
"Kepentingan rakyat yang mana?". Begitu kira-kira pertanyaan yang sering kali didengar dan sama-sama disaksikan diberbagai media. Jika sudah demikian, selaku penonton dan pengamat hanya bisa tersenyum bahkan tidak sedikit pula yang menertawakan. Seakan-akan mereka tengah menyaksikan stand up comedy atau drama komedi situasi yang biasa ditonton ditelevisi-televisi masa kini. Kemiskinan menjadi komoditas politik, kesenjangan sosial menjadi agenda pertemuan yang tak sedikit menguras anggaran keuangan negara, diskriminasi menjadi bahan lelucon teman percakapan ketika sarapan pagi, dan tindakan kriminalitas serta korupsi disana sini menjadi ladang subur bagi paraktek tawar menawar vonis hakim dipengadilan tinggi, bahkan hal menyeramkan pun pernah terjadi di Mahkamah Konstitusi. Itu yang seringkali disajikan para pencari berita di media masa untuk dikonsumsi. Sejujurnya, baik Yori maupun Rendy ingin sekali berbagi banyak hal tentang semua yang mereka ketahui. Namun melihat sikap Rhaka sepertinya tak begitu merespon apa yang disampaikannya, Yori pun harus puas dengan apa yang telah didapatkannya. Sebenarnya ia ingin lebih lanjut membahas tentang perang ideologi, juga tentang tarik menarik kepentingan terhadap satatus quo yang sempat dibahas pada diskusi-diskusi sebelumnya. Tapi apa boleh buat, Rhaka seakan menutup ruang untuk melanjutkan pembahasan ke arah itu. Alasan Rhaka sederhana, ia tak mau membahas lebih jauh sesuatu yang ia sendiri tak mengerti dan memahaminya. Penuturannya beberapa saat lalu pun ia dapatkan dari hasil upayanya memaksa Rhaka untuk berbicara. Jika tidak demikian mungkin ia tak mau bicara meski sepatah katapun juga. Dan tanpa terasa, selama itu tiga gelas seduhan kopi sudah masing-masing mereka habiskan hingga menyisakan ampasnya saja. Demi persahabatan mereka, Rhaka berusaha memberikan apa yang bisa dan mampu ia lakukan. Menurutnya pembicaraan mereka hanya sekedar saling mengisi dan berbagi untuk menambah wawasan masing-masing saja, tidak lebih dan tidak kurang, hanya itu. Diskusi diantara mereka tak ubahnya obrolan diwarung kopi yang mungkin tak berarti apa-apa bagi mereka yang berdasi. Benar atau tidaknya apa yang Rhaka sampaikan, ia kembalikan pada sahabatnya untuk dimengerti dan difahami.
"Aku hanya bagai buih di lautan luas, yang coba mengerti keinginan kalian sebagai sahabatku. Jika ada kata dan ungkapan yang berseberangan dengan pendapat kalian, aku harap kalian dapat menyikapinya secara bijak tanpa menghakimi. Aku menghargai kalian sebagai sahabat yang sudah seperti saudaraku sendiri. Jika suatu saat nanti kita berseberangan arah, aku hanya ingin kita tetap menjadi sahabat seperti saat ini. Oke braaayyyy ?! ". Ucap Rhaka mengakhiri penuturannya.
Yori dan Rendy menyambutnya dengan senyum
hangat, kemudian serentak mengulurkan tangan dengan jari terkepal sebagai tanda
persahabatan mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar