Karya : Ipey
Awan
putih berarak menyelimuti langit tinggi, dan kilaunya tampak indah di sinari
matahari. Sesekali angin semilir bertiup menyapa dedaunan, memberi sentuhan pada suasana hati. Langkah-langkah terdengar silih berganti
melewati jalan sempit di depan rumah pemilik kost yang di tempatinya hampir
setahun ini. Hanya tinggal menunggu hitungan hari ia harus secepatnya
memberikan kepastian pada pemilik rumah, akan tetap tinggal atau mencari tempat
lain. Rhaka menghitung kembali pecahan uang logam dalam kaleng biskuit dengan
teliti, lalu memindahkannya ke kantung plastik dengan memasukkan secarik kertas
bertuliskan jumlah uang didalamnya. Ia berpikir sejenak selepas menghitung jumlah
keseluruhan tabungannya.
“Tinggal beberapa rupiah lagi aku baru bisa
membayar uang kost pada pemilik rumah ini, seandainya akan tetap disini”. Gumamnya
dalam hati.
Ia berpikir, menimbang ulang untuk
memberikan jawaban pasti pada pemilik rumah. Beberapa hari lalu ketika dalam
perjalanan pulang ia melihat sebuah rumah kost-an tak begitu jauh dengan tempat
kost-nya sekarang. Kelihatannya cukup nyaman untuk ditinggali, meski agak jauh
dari tempat penjual makanan. Halamannya tak seperti yang ditempatinya sekarang.
Hanya teras pembatas halaman untuk sekedar berdiri memandangi jalan atau
mengunjungi kawan setempat yang berjejer memanjang bersebelahan satu sama lain.
Di ujung jalan hanya ada satu warung nasi yang bersebelahan dengan warung
sembako. Tapi sepertinya itu tak menjadi soal baginya. Setelah yakin akan
keputusannya, Rhaka beranjak dari tempat, menyambar handuk yang menggantung di
balik pintu, lalu bergegas pergi ke kamar mandi.
Langkah Diana terhenti ketika seseorang memanggil sambil berlari. Ia menoleh kebelakang, lalu membalikkan badan setelah tahu siapa orang yang bergerak kearahnya.
“Ada apa Na?”. Tanya Diana singkat.
“Ini, aku kembalikan bukumu. Thank’s ya
atas pinjamannya. Bukumu ini telah menyelamatkan aku dari omelan ibu dosen yang
gendut dan super galak itu. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana jika seandainya aku
tak segera menyampaikan tugasnya”. Tutur Ratna tanpa memberi kesempatan pada
Diana untuk memotong omongannya.
Diana tersenyum geli sambil menutup mulut
degan jemari tangan mendengar penuturan temannya ini.
“Apa kamu tak sadar dengan apa yang kamu
ucapkan?”. Tanya Diana.
Ratna menatap heran, berpikir akan maksud dari
pertanyaan yang dilontarkan padanya.
“Menurutmu ada yang salah dengan ucapanku
Na?”. Ratna berusaha mencari tahu maksud pertanyaan Diana.
“Memang kamu nggak ngerasa kalau kamu juga
sama seperti ibu dosen itu?”. Ia balik bertanya pada Ratna yang berdiri
menunggu jawaban. Ratna mengangkat kedua tangan, lalu meletakkan dipinggangnya
dengan pipi dikembungkan mendengar penuturan teman dihadapannya. Diana tak
kuasa menahan tawa geli melihat ekspresi wajah Ratna, kemudian melangkah
setengah berlari menjauh.
“Oke Na aku pergi dulu yach. Sampai ketemu nanti”.
Diana terus memacu langkah tanpa menghiraukan Ratna yang memandanginya berlalu.
Ia perlambat langkahnya ketika sampai di ujung gang. Ratna membalikkan badan,
beralu meninggalkan kejengkelanya.
Diana
berdiri sejenak setelah ketukan di pintu tak mendapat jawaban. Selang beberapa
saat, Rhaka keluar dari kamar mandi. Diana menarik nafas lega setelah tahu kedatangannya
tidak sia-sia.
“Sudah lama menunggu disitu Na?”. Tanya
Rhaka sambil membuka pintu. Ia meminta Diana menunggu sesaat untuknya berganti
pakaian, lalu setelah itu Rhaka mempersilahkan masuk. Diana memandangi sejenak bungkusan
plastik berisi pecahan uang logam tergeletak dilantai. Belum sempat ia
bertanya, Rhaka mendahuluinya.
“Tinggal beberapa hari kedepan kesempatanku
untuk menempati tempat ini. Aku coba menghitung tabunganku disini guna
keperluan itu. Sepertinya tabunganku cukup untuk membayar uang sewa kost, tapi bukan
membayar sewa ditempat ini”. Rhaka coba menuturkannya tanpa memberi ruang pada
Diana memikirkan sesuatu tentang kemungkinan-kemungkinan yang sedang
dihadapinya kini. Namun maksud baiknya tak menutup Diana mencari tahu keadaan sebenarnya.
Pikirnya tak mungkin ia akan berpindah tempat, jika tak ada sesuatu mendorongnya
melakukan hal itu.
“Apa sudah yakin dengan keputusanmu Ka?.
Bukankah tempat ini cukup nyaman buatmu, atau mungkin ada sesuatu hingga
membuatmu mengambil keputusan untuk pindah ke tempat lainnya?”. Diana berusaha
mencari tahu dan ingin memastikan bahwa Rhaka tidak sedang dalam kesulitan.
“Aku ingin mencari suasana baru. Hanya itu
saja”. Rhaka berusaha meyakinkan, agar tak menjadi beban baginya.
“Menurutmu, haruskah aku memberi tahumu
kemana aku akan pindah?”. Tanya Rhaka
kemudian.
“Jika menurutmu aku harus tahu, aku siap
mendengarkan. Dan kalaupun menurutmu aku tak harus tahu, itu kebangetan namanya
Ka”. Canda Diana coba memecah suasana.
“Jika kamu berpikir aku tak harus tahu, berarti
ada sesuatu ingin kau sembunyikan dariku”. Lanjutnya menegaskan.
“Tempatnya tak terlalu jauh dari sini. Jika
kamu mau, kita bisa pergi kesana sekarang juga”. Jelas Rhaka diakhiri ajakannya
untuk pergi ke tempat yang ia maksudkan. Ia tak ingin Diana berpikir jauh
kearah pertanyaan lainnya.
Sejenak Diana menatapnya penuh harap
mengetahui, apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan lelaki didekatnya ini.
“Kebetulan aku berencana mengajakmu jalan,
itu pun jika tak mengganggu aktifitasmu hari ini”. Diana coba menyampaikan
niatnya semalam untuk mengajak Rhaka pergi.
Tanpa menunggu lama, Diana beranjak dari
tempatnya, setelah Rhaka memberi isyarat untuk pergi.
Diana tak mengira sore ini begitu banyak orang berdatangan ke tempat yang ia kunjungi. Untuk berjalan ke pintu masuk saja ia harus rela berdesakan dengan orang-orang disekitarnya. Ia baru mengetahui setelah berada di dalamnya. Rupanya pengelola usaha sedang memberi ruang bagi para produsen untuk mempromosikan hasil produksi terbaru di tempatnya. Diana menarik pergelangan tangan Rhaka ke arah eskalator menuju lantai atas.
Ia meminta Rhaka memilih tempat dimana
mereka bisa melihat suasana di lantai bawah gedung. Rhaka berjalan mencari
tempat seperti yang diinginkan Diana, sementara ia memesan makanan.
Rhaka memutar pandangan mata mengelilingi tempat
sekitar dimana ia barada. Lamunan menghinggapi benaknya ketika menatap tempat
penyaji makanan tak jauh darinya. Suasana masa lalu mengajak ia menelusuri kembali
kebersamaan dengan seseorang yang pernah menorehkan kisah romansa
dikehidupannya, hingga Diana datang menyadarkan lamunannya.
“Aku mau kamu mencoba menu baru yang sengaja
aku pilihkan buat kita”. Ajak Diana sembari mengambil sendok dan garpu di dekatnya.
Rhaka mengangguk setuju untuk mencobanya. Disela-sela waktu menyantap makanan, Rhaka
merasa ada sesuatu mendorongnya untuk menatap ke arah meja dimana dulu ia
pernah berada disana bersama seseorang. Matanya seakan tak bisa berkedip ketika
melihat seseorang yang begitu ia kenal.
“Lembayung ?”. Ucapnya tanpa sadar, hingga
membuat Diana menatap heran wajahnya.
“Ada apa Ka?. Tanya Diana mencari tahu.
Rhaka berusaha bersikap wajar ketika Diana menanyakan sesuatu padanya. Diam-diam ia kembali mencuri pandang ke arah dimana Lembayung tengah berada disana bersama anak perempuan dan seorang pria di dekatnya. Hatinya berkata-kata.
“Syukurlah kau baik-baik saja Bay. Aku
senang melihatmu tersenyum bahagia. Semoga kau tetap bisa menjalaninya seperti
yang pernah aku minta”.
Rhaka tak sadar butiran air menggelayut di
kelopak matanya, hingga membuat Diana menatap penuh tanya.
"Kenapa matamu berkaca-kaca Ka ?. Tanya Diana berharap jawaban. Ia menoleh ke arah tatapan mata pria dihadapannya.
Rhaka tersadar, kemudian ia mengusap
matanya.
“nggak apa-apa, mungkin makanan memercik ke
mataku”. Rhaka mencoba bersikap wajar, tak ingin membuat Diana bertanya-tanya.
Setelah makanan yang disantapnya berpindah tempat ke tubuhnya, Rhaka mengajak
Diana pergi, dengan alasan ada sesuatu yang ia lupa untuk dibelinya. Diana
mengangguk, kemudian beranjak untuk pergi.
Sementara itu Lembayung masih tetap di mejanya
menyantap sajian, sambil sesekali menyuapi anaknya. Tanpa sengaja ia menatap
keluar, kemudian tiba-tiba raut wajahnya berubah ketika melihat seorang lelaki
berjalan disamping seorang perempuan memegangi tangannya. Seakan tak percaya ia
mengusap kedua mata dengan jari tanganya, hingga ia yakin lelaki itu tak lain
seseorang yang sangat ia kenali. Ia beranjak dari kursi yang didudukinya,
meminta pada suaminya pamit keluar sebentar. Ia berusaha sebisa mungkin agar tak mengundang perhatian dan juga mengundang pertanyaan. Matanya mencari ke arah dimana ia tadi
melihat lelaki yang dikenalinya bersama perempuan disampingnya. Ingin rasanya
ia memanggil dan berlari ke arah lelaki itu ketika didapatinya tengah menuruni
tangga. Namun ia coba menahan sekuat hatinya untuk tak berbuat hal bodoh yang tentu
akan membuatnya berada dalam masalah besar. Ia hanya bisa menatap dengan
pandangan mata berkaca-kaca. Entah untuk apa butiran bening dikelopak matanya.
Bahagia, sedih, kesal atau kecewa?. Hanya ia sendiri yang tahu akan perasaannya
saat itu. Ia tak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Setelah mereka
hilang dari pandangannya, baru Lembayung kembali melangkah sambil menyeka
butiran bening yang menetes di pipinya.
Bersambung ke Episode #11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hanya pengguna terdaftar yang dapat memberikan komentar pada blog ini.